
Indonesia Usulkan Enam Kelompok Kerja dengan Prancis

Jakarta, (Antara) - Pemerintah Indonesia mengusulkan membentuk enam kelompok kerja dalam bidang ekonomi dengan Prancis guna meningkatkan kemitraan strategis antarkedua negara yang telah terjalin sejak 2011. "Saya mengusulkan membentuk 'Joint Committe' yang di dalamnya ada kelompok kerja yang bisa kita tekuni bersama," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa usai menerima kunjungan Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis Nicole Bricq di Jakarta, Rabu. Menteri Perdagangan Luar Negeri Nicole Bricq yang hadir dalam rangka lawatan resmi ke Indonesia selama dua hari itu didampingi Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuze beserta delegasi pejabat tinggi Kementerian Keuangan Prancis dan asosiasi pengusaha negara tersebut. Hatta mengatakan bahwa enam kelompok kerja yang diusulkan tersebut, antara lain, investasi dan perdagangan, energi dan pertambangan, pangan, lingkungan, teknologi, serta transportasi dan infrastruktur. "Kami bersama-sama bertekad meningkatkan hubungan kedua negara di bidang investasi, perdagangan, 'environment', dan bidang-bidang lain yang berpotensi serta belum tergali maksimal," katanya. Hatta mengharapkan komite bersama yang terdiri atas enam kelompok kerja tersebut segera terbentuk karena banyak potensi dan investasi dari Prancis yang bermanfaat untuk mendorong perekonomian nasional. "Kita tahu Prancis memiliki keunggulan teknologi dan banyak investasi mereka di Indonesia, seperti Total dalam bidang energi. Untuk itu, masih banyak investasi besar yang bisa terus ditingkatkan," ujarnya. Menteri Perdagangan Luar Negeri Nicole Bricq menyambut baik usulan dari Hatta karena peningkatan kemitraan strategis melalui pembentukan komite bersama dapat mendorong pengembangan investasi Prancis di Indonesia dalam berbagai bidang sosial dan ekonomi. "Kami memiliki keinginan untuk mengembangkan hubungan bilateral dalam rangka kemitraan strategis yang disepakati dua tahun lalu," ujarnya. Nicole memastikan pengusaha Prancis akan mendorong upaya yang lebih besar untuk meningkatkan nilai investasi karena Indonesia merupakan salah satu daerah tujuan investasi yang menguntungkan saat ini. "Saat ini, beberapa perusahaan Prancis sudah melakukan investasi besar di Indonesia dan mereka ingin melakukan investasi yang lebih besar ke depan," katanya. Nicole mengatakan bahwa Prancis selalu memberikan perhatian kepada Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan Asia Tenggara, terutama terkait dengan penerapan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015. "ASEAN merupakan prioritas bagi Prancis dan Indonesia merupakan superprioritas," katanya. Sebelumnya, pemerintah Prancis pada hari Selasa (4/6) telah memberikan pinjaman lunak melalui protokol pendanaan dari Kementerian Keuangan Prancis sebesar 80 juta euro dan dari Badan Pembangunan Prancis (AFD) sebesar 46 juta euro. Fasilitas pembiayaan dan kredit tersebut akan dimanfaatkan untuk pembiayaan tahap pertama proyek modernisasi koridor kereta api perkotaan Bandung (Bandung Urban Railway Transport Development dan Electrification Padalarang-Cicalengka Line Project). Kunjungan Nicole Bricq itu dalam rangka kemitraan strategis yang telah diprakarsai oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Desember 2009. Kemitraan strategis antar kedua negara kemudian diresmikan pada bulan Juli 2011, saat Perdana Menteri Prancis Francois Fillon berkunjung ke Jakarta. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
