
BKSDA Imbau warga waspada Karhutla saat kemarau Juni-Oktober 2020
Selasa, 7 Juli 2020 18:07 WIB

Kita rutin melakukan patroli dan kunjungan ke warga dalam mencegah Karhutla,
Agam (ANTARA) -
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat mengimbau warga untuk mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat musim kemarau pada Juni sampai Oktober 2020.
"Berdasarkan prediksi BMKG musim kemarau di Indonesia dimulai pada Juni dan puncaknya pada Agustus-Oktober 2020. Dengan kondisi itu, kami mengimbau warga terutama yang tinggal dan beraktivitas di sekitaran kawasan hutan untuk tidak melakukan pembakaran tanpa terkendali," kata Kepala Resor BKSDA Resor Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Selasa.
Ia menambahkan, aktivitas warga membakar biasanya dilakukan ketika akan membuka areal perladangan baru dengan tujuan untuk efisiensi waktu dan biaya.
Untuk itu BKSDA akan meningkatkan patroli pencegahan Karhutla terutama di sekitar lokasi kawasan hutan konservasi. Selain itu imbauan dan penyuluhan akan dilakukan secara anjang sana atau kunjungan langsung kepada warga.
"Kita rutin melakukan patroli dan kunjungan ke warga dalam mencegah Karhutla," ujarnya.
Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2020 kepada 26 Kementerian, lembaga dan para kepala daerah diminta untuk melakukan pencegahan, pemadaman dan penanganan pascaKarhutla.
Termasuk melakukan pengawasan, penegakan hukum dan pemberlakuan sanksi administrasi terhadap para pelaku Karhutla.
Khusus untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tambahnya salah satunya diinstruksikan untuk meningkatkan patroli polisi kehutanan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya.
Sebelumnya terjadi kebakaran lahan berupa kebun sawit milik warga seluas 12 hektar di Nagari Tiku Lima Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara pada Februari 2020.
BPBD Agam mengerahkan Satgas untuk memadamkan api yang menjalar ke lahan kelapa sawit itu.
Pemadaman juga melibatkan anggota Damkar Agam, TNI, Polri, Tim Reaksi Cepat PT Mutiara Agam, pemerintah nagari dan lainnya.
Tim kesulitan untuk memadamkan api, karena lahan merupakan gambut, sumber air cukup jauh dan akses yang cukup sulit. (*)
Pewarta: Yusrizal
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
