Bulog Solok baru serap 25 ton beras premium

id Bulog Solok,Penyerapan Beras Bulon,e-warong,bantuan pangan non tunai,berita solok

Bulog Solok baru serap 25 ton beras premium

Kantor Bulog Sub Divisi Regional Solok. (Antara/Tri Asmaini)

Solok (ANTARA) - Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Solok, Sumatera Barat baru menyerap sekitar 25 ton beras premium dari petani pada 2019 untuk menyuplai beras ke Elektronik Warung Gotong Royong (E-Warong) setempat.

"Penyerapan beras kita untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalui E-Warong tergantung permintaan pemilik toko," kata Kepala Bulog Sub Divisi Regional Solok, Riza Afrina di Solok, Rabu.

Menurutnya, sebelum program Beras Sejahtera (Rastra) menjadi BPNT, penyerapan beras medium untuk Rastra mencapai 600 ton per bulan untuk daerah Sub Divisi Regional Solok.

Daerah Sub Divisi Regional terdiri dari Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Tanah Datar, Dharmasraya, Kota Solok dan Sawahlunto.

Program BPNT di Kabupaten Sijunjung dan Solok baru akan berjalan pada Oktober 2019.

Tapi, karena berubahnya pola bantuan Rastra menjadi Pangan Non Tunai, penyerapan beras hanya yang premium seperti Sokan dan Anak Daro, tidak lagi beras dengan kualitas sedang (medium).

"Jadi, sebelumnya banyak masyarakat penerima rastra di Sumbar yang mengeluhkan kualitas berasnya yang buruk. Untuk itu setelah program ditukar menjadi BPNT, masyarakat bebas memilih beras yang akan dibeli," ujarnya.

Setiap penerima BPNT mendapat bantuan Rp110.000 perbulan yang dikirim ke rekening. Kemudian, penerima bantuan dapat menukarkan bantuan dengan beras atau telur sesuai kebutuhan di E-Warong khusus.

Satu E-warong biasanya bisa melayani hingga 250 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

"Jadi, penerima bantuan bebas membeli beras yang diinginkan atau telur yang dibutuhkan," ujarnya.

Pihaknya berharap dengan berubahnya bentuk bantuan Rastra menjadi BPNT, pemikiran masyrakat tentang Bulog yang hanya menyediakan beras murah kualitas buruk berubah.

"Padahal kami juga menjual beras kualitas bagus seperti Sokan atau Anak Daro yang akan bersaing dengan swasta. Tapi, pemikiran masyarakat Bulog hanya memiliki beras kualitas buruk," ujarnya.

Riza menyebutkan fungsi Bulog tetap seperti pemerataan penyaluran beras. Jadi, daerah yang berasnya surplus didistribusikan ke daerah yang defisit produksi berasnya.

"Jadi, petani tetap untung, walau hasil panen berlimpah, karena didistribusikan ke daerah lain," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar