Mengenalkan Pengelolaan Peternakan Sapi Potong Ramah Lingkungan di Dharmasraya

id Potensi dharmasraya

Mengenalkan Pengelolaan Peternakan Sapi Potong Ramah Lingkungan di Dharmasraya

Transfer ilmu dari tim pengabdian masyarakat Fakultas Peternakan Unand di Dharmasraya. (ANTARA SUMBAR/ist)

Padang (ANTARA) - Selain terkenal dengan produksi kelapa sawitnya, Kabupaten Dharmasraya juga menjadi salah satu daerah potensial pengembangan ternak sapi potong di Sumatera Barat.

Sebagai buktinya masyarakat sekitar selain bermata pencaharian dalam perkebunan sawit juga beternak sapi potong.

Khususnya di Nagari Sungai Langkok, Kecamatan Tiumang yang saat ini menjadi salah satu gudang terbesar sapi potong di Dharmasraya bahkan Sumbar.

Sebagai gambaran di Blok A Sitiung II, Jorong Koto Hilalang II, Nagari Sungai Langkok , setiap keluarga memiliki 2 hingga 10 ekor.

Hanya saja sebagai kabupaten yang tergolong baru tentu alih teknologi yang digunakan masyarakat dalam beternak sapi potong belumlah maksimal.

Tentunya diperlukan asupan teknologi dan inovasi pada pengelolaannya. Terutama dalam mengolah potensi dari ternak sapi potong bukan semata dalam hal daging. Sehingga dampaknya dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat.

Atas dasar inilah Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Peternakan Unand mencoba mengenalkan penguatan teknologi pengelolaan sapi potong dengan berbasiskan ramah lingkungan.

Sasaran pengabdian ini bukan hanya semata meningkatkan produksi dari ternak, namun juga meningkatkan penghasilan dari hasil sampingan ternak seperti feces sekaligus juga mensinergikan dengan produksi kelapa sawit.

Dari observasi yang dilakukan oleh tim di dua kelompok tani yakni Kelompok Tani Cerdas dan Kelompok Tani Brahman di Blok A Sitiung II, Jorong Koto Hilalang II, Nagari Sungai Langkok, Kecamatan Tiumang diidentifikasi beberapa persoalan yang perlu dicarikan solusinya.

Pertama, peternak mulai kesulitan mencari pakan hijauan khususnya saat musim kemarau. Kedua, kotoran sapi atau feses cukup menumpuk di sekitar kandang, sehingga mengganggu kebersihan dan mencemari lingkungan serta mengganggu estetika. Ketiga, biaya rekening listrik peternak akhir-akhir ini dirasa cukup mahal.

Dalam hal ini beberapa solusi yang ditawarkan yakni pertama, pemanfaatan limbah perkebunan dan agroindustri, seperti pelepah daun kelapa sawit dan bungkil inti sawit diolah sebagai pakan ternak sapi potong. Kedua, limbah ternak sapi potong yang berupa feses sapi diolah sebagai pupuk kandang melalui unit pengelolaan pupuk organik (UPPO) dan biogas untuk menghasilkan dan memenuhi kebutuhan energi dalam bentuk listrik dan gas di kawasan Kelompok Tani Cerdas dan Kelompok Tani Brahman.

Hal ini dapat mengurangi biaya operasional, khususnya kebutuhan listrik dan tidak bergantung pada PLN,. Ketiga, Pemanfaatan pupuk kandang atau organik dan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam mendukung sistem pertanian organik untuk budidaya secara intensif rumput unggul, seperti King Grass dalam rangka meningkatkan penyediaan pakan hijauan untuk pakan ternak sapi potong.

Selain itu kegiatan ini menjadi model bagi masyarakat peternak sapi potong di sekitar kawasan Kelompok Tani Cerdas dan Kelompok Tani Brahman untuk dapat mencapai tujuannya yaitu menyusun pengembangan kawasan berbasis peternakan sapi potong terpadu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Disamping itu di daerah ini, dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dan juga berfungsi sebagai kawasan alih (diseminasi) teknologi.

Adapun target khusus yang ingin dicapai adalah peternak mampu memanfaatkan limbah perkebunan dan agroindustri sebagai pakan ternak sapi potong. Dalam hal ini limbahnya dapat diolah melalui unit pengelolaan pupuk organik (UPPO) dan biogas serta peternak mampu secara intensif membudidayakan rumput unggul (King Grass) memakai sistem pertanian organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagai langkahnya, tim menggunakan Metode Consuling guna mendukung realisasi program PTDM (Produk Teknologi yang di Desiminasikan ke Masyarakat ) yang dilaksanakan pada peternak mitra. Antara lain melalui pendekatan, kemudian diberikan penyuluhan, pelatihan dan pembinaan serta terakhir adanya evaluasi dan monitoring berkelanjutan dari pihak Perguruan Tinggi (PT).

Hasil dari monitoring nanti diharapkan akan meningkatkan keinginan dan semangat serta motivasi yang tinggi untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan hidup.

Hal ini dapat terwujud apabila peternak sudah terampil dalam mengolah limbah perkebunan sawit dan agroindustri sebagai bahan pakan ternak sapi potong dan mahir dalam pembuatan biogas.

Selain itu dapat membuat pupuk organik serta mengaplikasikan dalam usaha budidaya hijauan makanan ternaknya menggunakan sistem pertanian organik .

Khusus menjadi acuan pada pelatihan, peternak dilatih dan dibina menggunakan teknologi pengolahan limbah perkebunan sawit menjadi bahan pakan ternak sapi potong, pengolahan limbah ternak jadi biogas dan pupuk organik, serta budidaya pertanian organik.

Dalam hal pengolahan limbah perkebunan sawit atau pembuatan pakan dari pelepah daun sawit dengan proses amoniasi dengan penambahan urea dan EM-4 atau probiotik. Kemudian bahan pakan tersebut diberikan kepada ransum sapi potong dengan susunan pelepah daun sawit amoniasi 60 %, dedak 4 %, ampas tahu 20 %, lumpur sawit atau solid 15 %, dan garam 1 %.

Kemudian pembuatan biogas dari feses sapi potong dengan menyiapkan reaktor biogas berbahan plastik dengan susunan empat ruang yakni Ruang penampung bahan baku (inlet), ruang pemroses (digester), ruang penampung sisa pemrosesan (outlet), dan ruang penampungan (tandon) gas. Pada reaktor tersebut dimasukkan feses kemudian mengalami pemrosesan hingga terbentuk biogas.

Pelatihan lain yakni pembuatan pupuk organik dari feses dengan penambahan EM-4 dan molases/gula yang kualitasnya akan lebih baik dari pupuk kandang biasa yang difermentasikan.

Proses tranfer ilmu dariTim Pengabdian Masyarakat Peternakan Unand pada peternak di Dharmasraya. (ANTARA SUMBAR/ist)


Terakhir melakukan budidaya King Grass atau rumput bahan pakan unggul dengan memanfaatkan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dan pupuk kandang. Budidaya ini termasuk sistem pertanian organik karena minim residu dan dampak dibanding sistem konvensional.

Pengabdian ini merupakan bagian dari program Produk Teknologi yang di Desiminasikan ke Masyarakat (PDTM) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun anggaran 2019.

Kegiatan ini mulai dilaksanakan pada Agustus 2019 dan ditargetkan rampung atau evaluasi pada November 2019. Kegiatan ini juga didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas.

Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan oleh Dr. Ir. Suyitman, M.P. sebagai ketua, kemudian Prof. Dr. Ir. Lili Warly, M.Agr. dan Prof. Dr. Ir. James Hellyward, M.S. sebagai anggota. (*)

*Tim pengabdian terdiri atas Dr. Ir. Suyitman, M.P. sebagai ketua, kemudian Prof. Dr. Ir. Lili Warly, M.Agr. dan Prof. Dr. Ir. James Hellyward, M.S. sebagai anggota yang merupakan dosen di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang.
Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar