Seorang warga Muko-Muko tewas tersambar petir

id Mukomuko,bengkulu,warga disambar petir

Sejumlah warga Kecamatan Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, membawa korban meninggal dunia akibat disambar petir dari sawah ke pemukiman penduduk di wilayah itu, Selasa (23/7/2019), (FOTO ANTARA/Istimewa)

Mukomuko (ANTARA) - Seorang warga Desa Arah Tiga, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, ditemukan meninggal dunia akibat disambar petir di lahan persawahan miliknya, Selasa sore sekitar pukul 16.00 WIB. Warga Kecamatan Lubuk Pinang, Abu Zaman dalam keterangannya di Mukomuko, Selasa, mengatakan korban meninggal akibat disambarpetir ini bernama Kasum Basri (52), warga Desa Arah Tiga.

Ia mengatakan, tempat kejadian peristiwa (TKP) korban yang juga ayah satu anak ini meninggal dunia akibat disambar petir di lahan persawahan di wilayah Desa Arah Tiga, Kecamatan Lubuk Pinang.

“Ada beberapa orang warga masyarakat di Desa Arah Tiga yang menemukan jasad korban ini meninggal dunia akibat disambar petir di lahan persawahan milik korban yang berada di wilayah ini,” ujarnya.

Selanjutnya, beberapa orang warga di wilayah ituyang menemukan membawa jasadnya dari lahan persawahan ke pemukiman penduduk setempat dan rumah korban.

Ia menyatakan, hingga kini belum diketahui kronologis kejadiannya sehingga korban yang juga petani di wilayah itu meninggal dunia akibat disambar petir di lahan persawahannya.

Peristiwa petir yang menyambar sebagian besar wilayah ini berlangsung cepat dan setelah itu ternyata ada warga di wilayah itu yang menjadi korban.

Abu Zaman menyatakan, sekarang ini sebagian besar warga masyarakat dari dan luar Desa Arah Tiga berkumpul di rumah duka.

Salah seorang warga Kecamatan Air Manjuto, Rohin menyatakan petir yang menyambar sebagian besar wilayahnya sangat cepatdan membuatnya tidak berani membuka barang elektronik di rumahnya.

“Saya tidak berani membuka komputer di rumah. Saya terpaksa mengungsi ke rumah orang tua yang berada lebih rendah dan aman dari petir,” katanya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar