Presiden Abbas percaya pada perdamaian lebih besar dari sebelumnya

id Mahmoud abbas

Presiden Abbas percaya pada perdamaian lebih besar dari sebelumnya

Mahmoud Abbas. (Antara)

Ramallah (Antaranews Sumbar) - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Rabu (6/2) mengatakan kepada satu delegasi Palestina-Israel bahwa ia percaya pada perdamaian lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya.

"Saya percaya pada perdamaian lebih daripada sebelumnya dan saya tak menginginkan perang," kata Presiden Abbas, sebagaimana dikutip Kantor Berita Palestina, WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Ia menyampaikan harapan bahwa pemilihan umum selanjutnya di Israel akan menghasilkan pemerintah yang benar-benar percaya pada perdamaian, dan menekankan bahwa ia siap bekerjasama dengan presiden baru Israel untuk mewujudkan perdamaian di wilayah tersebut,

Pernyataan Presiden Abbas tersebut dikeluarkan pada acara pembukaan Forum Palestina bagi Kebebasan dan Perdamaian, yang diselenggarakan di Markas Presiden Palestina di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan.

Pertemuan itu dihadiri oleh Mohammad Madani, yang bertugas dalam hubungan Palestina dengan Israel, mantan anggota Parlemen Israel Talab As-Sane, Presiden Parlemen Perdamaian Israel Ran Cohen dan tokoh lain Palestina serta Israel.

"Ruangan ini cukup besar buat semua pengikut tiga agama langit," kata Presiden Abbas. "Bagaimana Palestina tak bisa menampungnya? Kita telah tinggal di negara ini dengan dasar cinta dan perdamaian. Mengapa orang lain berusaha menyeret kita ke dalam kekerasan dan kebencian?"

Ia menambahkan, "Konferensi ini dilaksanakan terlambat, tapi itu lebih baik daripada tak pernah sama sekali. Itu adalah hasil dari bekerjasama dengan kubu pencinta perdamaian di Palestina dan Israel. Kita takkan membiarkan pikiran eksremis, yang mencari kerusuhan untuk mengakhiri perdamaian."

Ia mengatakan, "Konferensi ini adalah awal yang bagus bagi hidup berdampingan dua bangsa dalam perdamaian, terutama mengingat situasi yang memburuk di wilayah ini." Ia memuji upaya oleh forum tersebut untuk menemukan bahasa dialog antara kedua bangsa, bahasa perdamaian.

"Pengakuan kami atas Israel setelah Kesepakatan Oslo mencerminkan kepercayaan kami yang mendalam pada perdamaian yang sejauh ini kita nantikan. Kami ingin hidup dalam perdamaian dengan dasar penyelesaian dua-negara buat kedua bangsa sejalan dengan resolusi internasional," katanya.

"Kami berharap perundingan di antara kami dan pihak Israel akan berlanjut, tapi eksremis Israel membunuh (mantan perdana mentri Yizhak) Rabin dan menyeret wilayah ini ke dalam kerusuhan. Mereka menginginkan lebih banyak ekstremisme dengan menumpahkan darah anak-anak kami melalui serangan yang berulangkali dilancarkan terhadap rakyat kami."

Presiden Palestina tersebut menyampaikan harapan bahwa "pemilihan umum selanjutnya di Israel akan menghasilkan pemerintah yang mengupayakan perdamaian, dan usaha kami berlanjut untuk bekerjasama dengannya untuk mewujudkan perdamaian di wilayah ini dan buat semua bangsa di dunia. Tapi tanpa penyelesaian masalah Palestina, takkan ada kestabilan dan keamanan, tidak di wilayah ini dan tidak di dunia." (*)