Langkah Pemkot Pariaman lakukan intervensi stunting

id Stunting di Pariaman,Mukhlis Rahman

Wali Kota Pariaman, Mukhlis Rahman. (Antara Sumbar/Muhammad Zulfikar)

Pariaman, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat melakukan intervensi stunting atau masalah kurang gizi kronis akibat asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, melalui edukasi tentang asupan gizi bagi orang tua di daerah itu.

"Setiap orang tua harus mengetahui dan memperhatikan setiap asupan gizi yang diberikan kepada anak, terutama dalam masa kandungan agar tidak mengalami stunting saat lahir," kata Wali Kota Pariaman, Mukhlis Rahman, di Pariaman, Rabu.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita penderita stunting di berbagai negara atau sekitar 35,6 persennya berada di Indonesia.

Khusus di Kota Pariaman penderita bayi stunting atau bayi pendek mencapai 863 atau 11,1 persen dari 7.228 jumlah balita yang ada di daerah itu pada 2017, ujar dia.

Melihat data tersebut katanya, peran tenaga medis dan khususnya orang tua diminta lebih maksimal dalam memperhatikan berbagai asupan gizi kepada anak.

"Buruknya asupan gizi sejak janin masih dalam kandungan orang tua merupakan faktor yang mempengaruhi persoalan stunting," katanya.

Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan otak, sehingga lanjut dia, asupan gizi yang baik dan seimbang diperlukan terutama saat 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Kepala Dinas Kesehatan Pariaman, Bachtiar mengatakan pemerintah setempat telah berupaya memfokuskan program 1.000 hari pertama kehidupan anak untuk mengentaskan berbagai macam permasalahan gizi balita di daerah itu.

Untuk menyukseskan program 1.000 hari pertama kehidupan anak, pemerintah daerah memfokuskan pada sembilan poin pokok kesehatan," kata dia.

Sembilan poin untuk menuntaskan permasalahan gizi tersebut antara lain melaksanakan surveilans gizi ke lapangan, penimbangan massal dengan tujuan mendeteksi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kemudian pemberian vitamin A dua kali dalam setahun, pemberian obat cacing pada anak, pemeriksaan garam beryodium yang digunakan masyarakat.

Selanjutnya pemberian tablet tambah darah pada remaja putri, pemberian makanan tambahan pada balita kurus dan Ibu hamil kurang gizi, pelaksanaan posyandu setiap bulan dan penanganan intensif pada balita penderita gizi buruk. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar