Cabai kembali jadi pemicu inflasi di Padang

id Inflasi,Cabai penyebab inflasi,inflasi padang,BPS Sumbar

Ilustrasi - Inflasi.

Padang, (Antaranews Sumbar) - Kenaikan harga cabai merah kembali menjadi pemicu inflasi di Kota Padang pada Mei 2018 berdasarkan catatan yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat.

"Pada Mei 2018 Padang mengalami inflasi 1,12 persen cabai merah memberi andil 0,22 persen dan bawang merah 0,11 persen," kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Senin.

Menurutnya inflasi di Padang terjadi karena peningkatan indeks pada semua kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan 1,46 persen, kelompok makanan jadi, minuman, tembakau dan rokok 0,32 persen, kelompok sandang 0,19 persen, kelompok kesehatan 0,08 persen, kelompok pendidikan dan rekreasi dan olahraga 0,06 persen.

Ia menyebutkan di Padang pada Mei 2018 komoditas yang mengalami kenaikan harga selain cabai merah adalah daging ayam ras, nasi dengan lauk, telur ayam ras, ketupat, lontong sayur, daun bawang, tomat sayur, bahan bakar rumah tangga, kopi bubuk dan berapa komoditas lainnya.

Sebaliknya beberapa komoditas mengalami penurunan harga di Padang yaitu kentang,jengkol, beras, sabun detergen, cabai rawit, cabai hijau, cumi-cumi, batu bata, tomat buah, minyak goreng dan beberapa komdoitas lainnya.

Ia menyampaikan dari 23 kota di Sumatera pada Mei 2018, 13 kota mengalami inflasi dan yang tertinggi di Aceh sebesar 0,72 persen serta terendah di Lubuk Linggau 0,07 persen.

Sementara Padang berada pada posisi kelima dari seluruh kota yang mengalami deflasi di Sumatera dan urutan 22 secara nasional, kata dia.

Sebelumnya Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno meminta bupati dan wali kota di daerah itu lebih peduli terhadap inflasi dan tidak membiarkan begitu saja faktor-faktor yang dapat memicunya.

"Ketika harga pangan naik tak menentu, masyarakat tidak mampu beli, itu terjadi karena kepala daerah tidak peduli dan membiarkan saja, untuk mengatasi inflasi itu harus bersama-sama, kata Irwan.

Ia meminta kepala daerah selalu menindaklanjuti setiap hasil pertemuan Tim Pengendali Inflasi Daerah karena tujuannya adalah untuk kebaikan masyarakat.

"Pemimpin harus peduli soal ini, jangan sampai autopilot, jalan sendiri tanpa terasa ada kehadiran kepala daerah," ujarnya.

Ia menambahkan pengendalian inflasi membuat masyarakat nyaman juga bertujuan menciptakan iklim investasi yang kondusif karena harga-harga stabil sehingga pemilik modal bisa memperkirakan kapan uangnya kembali. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar