Sala camilan gurih khas Pariaman

id Sala

Sala lauak salah satu kuliner khas Pariaman. (ist)

Bentuknya bulat sebesar bola pingpong, warnanya kuning kecoklatan, renyah pada bagian luar, gurih isinya, itulah sala camilan khas dari Pariaman, Sumatera Barat.

Penganan yang kadang disebut juga sala lauak tersebut dibuat dari campuran tepung beras, ikan asin dan beberapa penyedap yang digoreng dengan minyak panas, dapat dijumpai di berbagai kedai di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman.

Sala menjadi teman pas untuk menemani makan lontong sayur atau lontong gulai kikil, namun dimakan langsung rasanya juga tetap lezat sehingga tak cukup jika hanya memakan satu biji.

Untuk membuat sala, resepnya adalah tepung beras dicampur cabai merah, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, garam dan ikan asin yang dihaluskan, lalu adonan disiram air hangat.

Adonan tersebut dibentuk bulat sebesar bola pingpong lalu digoreng hingga menguning. Namun selama digoreng, jangan coba-coba untuk mengaduknya sebelum adonan mengeras karena akan berpotensi meletup.

Untuk sala ikan biasanya ikan yang digunakan relatif besar dan tidak dihaluskan. Proses peracikan bumbu dan memasak sala ikan yaitu tepung beras dicampur rempah-rempah, lalu diaduk rata.

Di Kabupaten Padang Pariaman salah satu pusat penjualan sala ada di Kawasan Makam Syekh Burhanuddin di Kecamatan Ulakan Tapakis.

Pada kawasan cagar budaya tersebut terdapat puluhan pedagang yang menyajikan penganan itu. Sala bulat dijual Rp1.000 empat buah, sala ikan Rp8.000 hingga Rp10.000 per buah tergantung ukuran, sala rakik Rp1.000 per buah, sala rakik Rp1.000 dan sala cumi Rp4.000.

Salah seorang pedagang setempat, Jusnelti (34) mengaku telah menjual sala lauk semenjak 2002.

Keuntungan yang didapatkan dari berjualan sala dan penganan goreng lainnya beragam, tergantung dari jumlah peziarah yang mendatangi makam.

"Menjelang Ramadhan jual beli bisa mencapai Rp1 juta sehari. Berbeda di hari biasa, hanya mencapai Rp500 ribu,"katanya.

Pendapatan tersebut bisa meningkat apabila memasuki lebaran Idul Fitri dan basafa atau waktu jamaah tarikat satariah menziarahi makam Syekh Burhanuddin.

Bahkan Lebaran tahun lalu, jual beli Jusnelti mencapai Rp2 juta per hari sedangkan basafa mencapai Rp5 juta per hari.

Pembeli penganan yang dijajakan di kawasan tersebut tidak saja dari peziarah namun juga pengendara yang melintasi kawasan itu baik dari Kota Pariaman ke Kota Padang maupun sebaliknya.

Kepala Dinas Perdagangan Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Padang Pariaman, Nurhelmi mengatakan sala lauak menjadi salah satu penambah penghasilan warga di daerah itu.

"Bahkan untuk di Kawasan Makam Syekh Burhanuddin, berdagang sala lauk menjadi mata pencarian utama warga ," ujarnya.

Saat ini pihaknya sedang berupaya untuk meningkatkan kesadaran pedagang untuk lebih higienis dalam menyajikan penganan tersebut.

Hal tersebut karena sebagian besar pedagang di kawasan itu tidak meletakkan dagangannya di tempat tertutup agar terhindar dari debu, apalagi lokasi kiosnya berada di tepi jalan raya.

"Sekarang pedagang sudah mulai paham dampaknya semenjak diedukasi manfaat menyajikan dagangan higienis," kata dia.

Selain memberikan edukasi, pihaknya juga meminta pedagang untuk membandingkan banyaknya pembeli antara dagangan higienis dengan yang tidak.

"Namun kami yakin secara bertahap pedagang akan sadar," ujar Nurhelmi.

Di Kota Pariaman, selain tersedia sala lauak bulat, ikan, dan peyek, juga ada sala lauak lambuak atau lembut.

Setidaknya sekitar lima pedagang yang menyediakan sala lambuak tersebut. Salah satunya di Pondok Nasi Nyanyak, Pantai Cermin.

"Sala lembut biasanya dimakan sebagai lauk pauk nasi, sedangkan sala lauk bulat dimakan sebagai kudapan," kata pemilik Pondok Nasi Nyanyak, Mira Astuti (34).

Kedai nasi prasmanan yang dibuka dari pukul tujuh pagi hingga dua siang tersebut memiliki spesifikasi menu sala lauk lembut, sala ikan, dan sala cumi-cumi.

Ia mengatakan bahan untuk membuat sala lauk lembut sama dengan sala pada umumnya, sedangkan cara membuatnya berbeda.

Untuk membuat sala lauk lembut yaitu tepung beras dan diberi air mendidih, lalu didiamkan semalam.

Paginya, adonan diberi rempah-rempah dan bumbu serta ikan yang dihaluskan. Namun ikan yang digunakan bukan ikan asin.

Untuk memasak sala ini, tidak seperti sala bulat yang harus dibulatkan sehingga adonannya lebih lunak daripada sala lauk bulat. Adonan yang telah siap tinggal diambil dengan ukuran lebih kecil dari sala bulat dan langsung digoreng.

"Rata-rata jual beli bisa mencapai Rp1,2 juta per hari, dan hal itu bisa tiga kali lipat apabila memasuki hari libur," ujarnya.

Menurutnya semua ikan dapat dijadikan sala sehingga orang dapat merasakan sala yang bervariasi.

Karena variasi tersebut, beberapa tahun lalu Mira menjadi pemenang pada perlombaan tentang sala lauk yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat.

Pada bulan Ramadhan, sala tetap menjadi idola. Di antara l berbagai makanan yang dijajakan di Pasar "Pabukoan" sala senantiasa berada di sana dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Ibarat kata apapun makanan dan minumannya, camilannya tetap sala lauak.

Tak heran ketika masuk bulan puasa, warga menjadi pedagang dadakan menjual sala sebagai pekerjaan sambilan sehingga mereka dapat pula mencicipi sala buatan sendiri untuk hidangan berbuka puasa. (*)

Pewarta :
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar