Psikolog: jangan paksa anak usia dini baca tulis dan berhitung

id pendidikan anak usia dini

Ilustrasi sejumlah anak dari beberapa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengikuti lomba lilin kreasi (ANTARA)

Namun sayang sebagian mereka belum menyambut baik pesan tersebut karena menganggap indikator kecerdasan anak adalah menguasai calistung saat PAUD, padahal itu itu keliru. 
Payakumbuuh, (Antaranews Sumbar) - Memaksa anak usia dini (AUD) untuk bisa membaca, menulis dan berhitung saat bersekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berpotensi membuatnya gagal pada fase yang lebih tinggi, kata psikolog.

"Mereka terlihat hebat saat duduk di bangku kelas satu SD, tetapi dalam banyak kasus akan mengalami kemunduran semangat belajar pada saat kelas tiga dan seterusnya", ujar psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Zakwan Adri, M.Psi di Payakumbuh, Senin.

Pada saat kelas tiga ke atas, anak tersebut terkesan tidak peduli jika mendapatkan nilai jelek. Mereka akan lebih banyak bermain dan tidak fokus dalam belajar.

Hal itu sebagai kompensasi masa bermain mereka di fase PAUD yang terampas dan mereka menggantinya pada masa tersebut.

Pada fase pendidikan usia dini, dunia mereka adalah permainan, pengetahuan diperoleh melalui permainan, bukan melalui kursus dan les yang bermacam ragam.

Belajar mewarnai menyiapkan anak siap menulis, permainan memindahkan air pakai pompa merupakan terapi motorik halus, main karet bikin tali-temali, pesawat dan bentuk benda lainnya menguatkan otot jari sehingga tulisan anak menjadi bagus.

Kemudian, menyanyi memperkaya kosa kata anak, dan banyak permainan lain yang semuanya bermakna pelajaran buat persiapan mereka ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Zakwan juga meminta peserta untuk tidak menerapkan teori motivasi balas dendam (Revans Motivation Theory) kepada anak anak mereka. Teori tersebut menjelaskan bahwa orang tua memaksakan kepada anak mendapatkan sesuatu yang dahulu tidak bisa diraihnya.

"Misalnya dahulu orang tua tidak berhasil jadi dokter, anak lalu dipaksa belajar supaya bisa jadi dokter, sejak TK sudah dijejali pelajaran berat yang menurut orang tua akan membantu anaknya bisa menjadi dokter. Itu salah besar", ujarnya.

Terpisah, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Payakumbuh Ny. Henny Riza Falepi yang juga merupakan Bunda PAUD Kota Payakumbuh berpendapat sama.

Ia mengatakan anak usia dini seharusnya belum dibebani dengan materi pembelajaran yang berat seperti harus bisa menguasai calistung saat mengikuti PAUD.

"Yang lebih penting diajarkan saat PAUD adalah kecintaan atau ketertarikan pada buku sebagai sumber ilmu, dengan begitu anak-anak akan lebih bagus dan awet minat dan budaya bacanya," katanya.

Kepandaian calistung anak lebih baik didapat secara alamiah melalui aktivitas yang mereka jalani sehari-hari, seperti seperti ilmu berhitung, yang penting diajarkan itu konsep berhitung sederhana, dan nyatanya anak-anak biasanya sudah belajar berhitung melalui jajan di warung.

Sebagai Bunda PAUD ia acap kali berbicara di depan guru PAUD dan menyampaikan pesan agar anak didik PAUD jangan dibebani dengan calistung yang berlebihan.

Namun sayang sebagian mereka belum menyambut baik pesan tersebut karena menganggap indikator kecerdasan anak adalah menguasai calistung saat PAUD, padahal itu itu keliru.

Kondisinya diperparah karena sebagian SD favorit mensyaratkan calistung sebagai ujian masuk ditempat mereka.

Dikatakan Henny, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh agar kurikulum sekolah PAUD di Kota Payakumbuh bisa disesuai dengan temuan dalam ilmu psikologi diatas.

"Semoga kita bisa merubah mainset para orangtua untuk tidak membebani AUD mereka dengan beban belajar yang berat-berat, demi kebaikan generasi penerus kita juga," pungkas Henny. (*)
Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar