
Agam Eliminasi 1.500 Anjing Antisipasi Penularan Rabies

Lubuk Basung, (Antara Sumbar) - Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 2017 bakal mengeliminasi sebanyak 1.500 ekor anjing liar dalam mengantisipasi kasus rabies di daerah itu.
"Eliminasi ini akan kita lakukan di 16 se-Kabupaten Agam. Target ini hampir sama pada 2016 sebanyak 1.500 ekor anjing dan realisasi hanya 354 ekor," kata Sekretaris Dinas Pertanian Agam, Arief Restu di Lubuk Basung, Sabtu.
Ia mengatakan, Dinas Pertanian Agam mengerahkan petugas dan melakukan kerjasama dengan masyarakat setempat saat eliminasi anjing liar itu.
Sebelum eliminasi ini, pihaknya telah menyosialisasikan kepada masyarakat melalui mobil penerangan keliling milik Dinas Komunikasi dan Informatika Agam, agar mengikat anjing mereka.
"Jangan sampai saat eliminasi nanti, anjing masyarakat ikut mati. Untuk itu kita memberitahu mereka," katanya.
Pada Januari 2016, katanya, Dinas Pertanian Agam telah mengeliminasi 26 ekor anjing liar di Kecamatan Lubuk Basung, karena kasus gigitan anjing sangat tinggi di Kecamatan Lubuk Basung.
Pada Januari 2017, katanya, sebanyak delapan kasus gigitan anjing di Kecamatan Lubuk Basung. Sementara pada 2016 sebanyak 213 kasus gigitan anjing dan 21 kasus positif rabies.
Selain melakukan eliminasi, Dinas Pertanian juga memberikan vaksinasi untuk hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera.
"Pada 2017, Dinas Pertanian Agam mendapatkan bantuan vaksinasi dari Dinas Peternakan Provinsi Sumbar sebanyak 9.000 dosis," katanya.
Saat ini, populasi anjing di Agam sekitar 32.837 ekor anjing.
Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian, menambahkan, pada Januari 2016 satu warga Agam berobat ke Singapura akibat serum anti rabies (SAR) tidak ada di Indonesia dan pada 2016 sebanyak empat warga.
"Warga ini digigit anjing pada bagian mungka atau gigitan beresiko tinggi," katanya.
Bagi penderita gigitan anjing beresiko tinggi harus mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR), agar virus tidak sampaik ke otak.
Vaksin anti rabie (VAR), katanya, disuntikan pada bagian bahu tangan. Sementara SAR disuntikan pada bagian luka gigitan.
Penderita ini telah mendapatkan VAR dari Puskesmas. Namun belum mendapatkan SAR akibat obat ini sudah kadaluarsa pada September 2016.
Sedangkan ketersediaan SAR di Sumbar maupun Indonesia tidak ada lagi, setelah perusahaan tidak memproduksi. (*)
Pewarta: Yusrizal
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
