Logo Header Antaranews Sumbar

Dinkes Targetkan 545.359 Anak Ikut PIN Polio

Jumat, 19 Februari 2016 16:27 WIB
Image Print
Ilustrasi imunisasi (antara)

Padang, (Antara) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Barat, menargetkan sebanyak 545.359 anak di provinsi itu ikut serta dalam Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio yang akan berlangsung pada 8 hingga 15 Maret 2016.

"Jumlah tersebut berdasarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) anak berusia 0 hingga 59 bulan yang berada di 19 kabupaten/kota se-Sumbar," kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sumbar, Irene di Padang, Jumat.

Ia menyebutkan 545.359 anak tersebut terdiri dari 277.750 laki-laki dan 267.609 perempuan.

Jumlah anak yang menjadi sasaran terbanyak berada di Kota Padang yakni 81.994 anak, diikuti 51.213 anak di Pasaman Barat, 47.517 anak di Agam, 46.870 di Pesisir Selatan, 40.855 anak di Padang Pariaman, 38.854 di Solok, 38.285 di Limapuluh Kota, 31.987 anak di Tanah Datar, 31.927 anak di Pasaman.

Selanjutnya 26.333 anak di Dharmasraya, 26.150 anak di Sijunjung, 18.256 anak di Solok Selatan, 13.914 di Kota Payakumbuh, 12.649 di Kota Bukittinggi, 11.766 di Kepulauan Mentawai, 8.137 di Kota Pariaman, 7.148 di Kota Solok, 6.184 di Kota Sawahlunto dan 5.320 di Kota Padang Panjang.

"Namun jumlah ini kemungkinan akan mengalami selisih sekitar 100.594 anak atau 18,45 persen dalam realisasinya," ujarnya.

Lebih besarnya angka dalam sasaran pusdatin dengan realisasinya disebabkan adanya sejumlah anak yang dibawa merantau oleh orang tuanya sehingga Dinkes Sumbar perlu melakukan pendataan ulang dengan mencocokkan data yang ada dengan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) serta data PKH Dinas Sosial.

Untuk melaksanakan PIN polio pada jadwal yang telah ditetapkan itu, Dinkes Sumbar menyiapkan 7.517 pos PIN yang tersebar di 19 kabupaten/kota dengan melibatkan 9.687 tenaga kesehatan dan 30.653 kader PIN polio.

"Tepatnya ini tersebar di 268 puskesmas atau 163 kecamatan Sumbar," katanya.

Terkait kebutuhan vaksin untuk mengimunisasi ratusan ribu anak itu dibutuhkan sekitar 32.080 vaksin polio.

Selain itu, Irene menegaskan anak yang tidak datang dan belum mendapatkan imunisasi pada saat kegiatan PIN polio itu, maka harus dikunjungi dan diberikan imunisasi polio dalam kurun waktu maksimal tiga hari.

"Hal ini penting agar dapat mewujudkan target pelaksanaan mencapai 95 persen," tegasnya.

Sementara terkait adanya kelompok-kelompok anti vaksin terutama polio, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim B Yanuarso mengatakan pihak yang menolak imunisasi banyak yang asal bicara tanpa menggunakan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menyampaikan orang-orang yang meyakini vaksin berbahaya terlalu banyak menerima informasi tidak benar dari media sosial yang justru disampaikan pihak yang bukan ahlinya.

Menurutnya, jika ada yang menyebut imunisasi adalah upaya memasukkan bakteri dan penyakit ke dalam tubuh anak, hal itu hanyalah orang-orang yang bicara tanpa ilmu.

Ia menjelaskan imunisasi dibutuhkan untuk dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh khusus atau disebut sel V yang berfungsi menangkal penyakit berbahaya.

"Ini hanya bisa dilakukan dengan pemberian vaksin karena pemberian air susu ibu, vitamin dan herbal tidak mampu menangkal serangan penyakit berbahaya dan hanya memberi kekebalan bersifat umum," jelasnya.

Oleh sebab itu dipastikan bakteri yang telah dijinakan dalam vaksin yang diberikan saat imunisasi tidak akan membuat sakit melainkan merangsang kekebalan tubuh khusus menjadi aktif ketika terserang penyakit. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026