
Pemprov Sumbar Prihatin Terhadap Keberadaan Media Tradisional
Senin, 24 Agustus 2015 13:55 WIB

Padang, (Antara) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) prihatin terhadap keberadaan media tradisional yang mulai ditinggalkan oleh sebagian besar generasi muda di daerah itu.
"Media tradisional ini, jika tidak dikelola dengan baik, akan hilang dalam kemajuan zaman. Ini akan menjadi kehilangan besar bagi kita," kata Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Sumbar, Irwan saat memberikan bimbingan tekhnis pengembangan dan pemberdayaan media tradisional di Padang, Senin.
Menurutnya, media tradisional itu telah berkembang sejak lama, bisa berbentuk nyanyian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, maupun drama rakyat yang terus dilakukan turun temurun hingga saat ini.
Meski masih bisa ditemukan, tetapi menurutnya, media tradisional itu sudah mulai langka, terutama untuk generasi muda yang tinggal dan tumbuh di perkotaan.
"Padahal media tradisional itu memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang harus terus dijaga," katanya.
Menurut dia, pemerintah sebagai pihak yang peduli terhadap keberadaan media tradisional itu, berupaya untuk memberikan pemahaman pengelolaannya kepada instansi terkait diantaranya humas, kominfo, dan pariwisata.
"Instansi terkait dari seluruh kabupaten dan kota se-Sumbar ini kita undang untuk diberikan pelatihan guna pengembangan dan pemberdayaan media tradisional di daerah masing-masing," katanya.
Irwan mengatakan, salah satu media tradisional yang berkembang dan masih tersisa hampir di seluruh daerah di Sumbar adalah randai.
"Media tradisonal berupa kesenian randai ini perlu mendapat perhatian bersama agar dapat dikelola secara berkesinambungan," katanya.
Dia mengatakan, randai merupakan media tradisional yang telah menjadi salah satu ikon pariwisata Sumbar.
"Potensi ini perlu untuk terus dipertahankan dengan stategi yang tepat, sesuai dengan perkembangan zaman. Inilah yang menjadi tugas kita ke depan, ujarnya.
Menurut dia kecintaan terhadap media tradisional bukan hal yang ketinggalan zaman.
"Kita bisa bercermin kepada Jepang terkait hal ini. Jepang mengusai industri dan ekonomi dunia dengan tetap mempertahankan budaya dan media tradisionalnya, kata dia.
Sementara, salah seorang peserta, Yusni mengatakan bimbingan tekhnis tersebut mampu menghadirkan cara pandang yang baru terhadap media tradisional yang selama ini dianggap ketinggalan zaman.
"Nilai-nilai yang ada dalam media tradisional ini bisa menjaga jati diri masyarakat di tengah dinamika perkembangan zaman," katanya. (*)
Pewarta: Agung Pambudi
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
