Logo Header Antaranews Sumbar

TNI Siap Amankan Ketahanan Energi

Kamis, 12 Maret 2015 13:40 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyatakan, jajarannya siap mengamankan ketahanan energi di Indonesia mengingat pasokan energi sudah mulai berkurang. "Kita mencari upaya untuk membangkitkan semangat rakyat dalam menggerakkan energi baru dan terbarukan," kata Panglima TNI, usai mendengarkan paparan pakar minyak dan gas, Abdul Muin, dalam acara TNI Mendengar, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Kamis. Salah satu upaya menggalakan energi baru dan terbarukan adalah menyiapkan lahan untuk menanam Kemiri di Kalimantan Barat, di mana Kemiri mampu menjadi bahan bio diesel. Di perbatasan pun, TNI juga akan mengusahakan agar prajurit di sana bisa mandiri di bidang energi. Untuk jangka pendek, lanjut Panglima, TNI diminta Pertamina untuk menertibkan kegiatan illegal drilling yang terjadi di Bojonegoro, Jawa Timur. "Kami diminta membantu Pertamina mengoptimalkan keamanan minyak dan gas," jelasnya. Di tempat yang sama, Pakar Minyak dan Gas, Abdul Muin, mengharapkan peran TNI dalam menjaga agar krisis minyak bumi tak terjadi. "Krisis minyak bumi menjadi kunci krisis-krisis lain. Akan merembet ke krisis energi hingga krisis sosial-politik. Dampaknya sangat besar. Saya khawatir kalau persatuan tak dijaga, maka disintegrasi sudah menghadang di depan mata," kata mantan wakil kepala SKK Migas ini. Abdul juga berharap pengawalan yang sangat berkelanjutan dari pihak TNI dan selalu waspada melihat persoalan ke depan. Apalagi cadangan minyak di Indonesia saat ini hanya untuk 11 tahun ke depan. Saat ini cadangan minyak Indonesia hanya 3,7 miliar barel atau sebesar 0,2 persen cadangan minyak dunia. "Ini sangat sedikit sekali, mungkin hanya mencukupi selama 11 tahun ke depan," katanya. Indonesia dinilai telah mengalami krisis energi akibat buruknya pengolahan minyak bumi selama ini. Krisis ini terbukti dengan terus menurunnya cadangan minyak bumi di Indonesia. "Kita lebih dekat dengan energi krisis dibandingkan energi independen," ujarnya. Sebab, kata dia, menurunnya minyak bumi dapat menyebabkan energi menjadi krisis. Padahal, Indonesia sempat mengalami masa puncak energi di era orde baru yakni pada 1977 dan 1995. Di mana akibat terjadi krisis global, menyebabkan energi di Indonesia terus menurun. "Pada 1977 kita pernah mengalami di puncak, 1995 pun kita mengalami puncak kedua. Tapi selanjutnya kita mengalami penurunan, dan besar kemungkinan akan terjadi penurunan permanen. Krisis global memengaruhi ini," tegasnya. Selama masa reformasi, Abdul melihat Indonesia mengorbankan banyak hal untuk mengelola demokrasi, termasuk pengelolaan minyak dan gas. "Saatnya untuk mengelola politik dan pemerintahan untuk kembali menata bidang lain," ujarnya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026