
Hikmah di Balik Bencana
PELAJARAN berharga kembali diberikan Sang Khalik kepada makhluknya di Ranahminang, gempa berkekuatan 7,9 SR pada 30 September lalu, seakan menjadi pertanda kalau "beliau" telah murka. Meski "sanksi" yang dijatuhkanNya sangat mengejutkan, mengagetkan dan menimbulkan korban jiwa, namun sesungguhnya banyak hikmah dan makna yang bisa dipetik dari musibah tersebut. Mulai dari bangkitnya kesadaran bahwasanya kita telah semakin jauh dariNya, sampai kepada pentingnya menjaganya kebersamaan, kekompakan dan juga melestarikan alam.Dalam Alquran, Allah telah menyebutkan kalau bencana hanya akan dijatuhkan kalau makhluknya lengah, lupa akan "beliau" dan juga mulai berseminya kegiatan maksiat.Nah, berkaca dari ayat tersebut, tentu kita perlu merenung, sejauh mana kita sebagai makhluk lupa akan tugas dan tanggungjawab kita sebagai ciptaanNya. Kita boleh saja membanggakan diri kalau kita makhluk yang sempurna, punya berbagai kelebihan dan lain sebagainya, namun kita juga harus ingat bahwa semua kelebihan yang kita miliki belum seberapa dibandingkan kekuatan Sang Khalik.Jatuhnya korban hingga ratusan orang hingga bangunan yang rusak ratusan ribu unit, pertanda kalau murka Allah sangat besar. Sekarang, tidak pada tempatnya kita menyesali yang terjadi. Namun sebagai umat beragama, kita harus mengambil hikmah dari musibah tersebut. Kalau kita selama ini melupakanNya, maka musibah gempa bisa menjadi momentum untuk kembali merajut hubungan mesra antara makhluk dengan Tuhannya (habluminallah).Kalau makhluk telah menjalani kembali segala tugas dan tanggungjawabnya, insyaallah bencana akan jauh dan Ranahminang akan kembali bangkit. Musibah bukan akhir dari segalanya, namun musibah harus dijadikan cambuk untuk menyadari kekeliruan dan kembali ke khitttah kita sebagai makhluk Tuhan.(***)