
Hizbut Tahrir Serukan Perlindungan Wanita dari Kapitalisme

Jakarta, (ANTARA) - Organisasi Islam Hizbut Tahrir dalam konferensi internasional bertajuk "Khilafah Melindungi Perempuan dari Kemiskinan dan Eksploitasi" menyerukan perlindungan wanita dari pengaruh buruk kapitalisme. "Kapitalisme menyebabkan ketimpangan kesejahteraan diantara masyarakat dan eksploitasi wanita. Bekerja dianggap sebagai satu-satunya cara agar wanita dapat mengamankan kebutuhan finansialnya. Padahal tak jarang saat bekerja wanita mendapat perlakuan buruk," kata juru bicara Hizbut Tahrir Regional Asia Tenggara Fika Komara dalam konferensi tersebut di Jakarta, Sabtu. Dia menegaskan sudah saatnya umat Islam meninggalkan sistem kapitalisme yang menyengsarakan wanita dan beralih ke sistem khilafah yang menerapkan hukum Islam dalam setiap sendi kehidupan masyarakatnya. "Dalam sistem khilafah kewajiban mencari nafkah diwakilkan oleh kaum laki-laki dan terdapat peran negara yang lebih besar untuk melindungi wanita dari eksploitasi serta perlakuan buruk," katanya. Sementara itu juru bicara organisasi Hizbut Tahrir dari Inggris Imrana daudi mengatakan ada salah kaprah di masyarakat dalam menilai keberhasilan seorang wanita. "Wanita pekerja dianggap bahagia dan mandiri. Padahal tidak semua wanita menyukai konsep tersebut. Kesuksesan hidup bukan terletak pada seberapa banyak wanita bisa mengumpulakn uang demi menafkahi keluarganya tetapi bagaimana dia berusaha agar mendapat tenpat tertinggi di sisi Allah saat akhir zaman nanti," katanya. Konferensi Internasional Wanita Hizbut Tahrir yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu (22/12) merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan setelah konferensi yang sama diadakan di Tunisia bulan Maret lalu. Konferensi ini diikuti oleh sekitar 1500 peserta dari seluruh kota di Indonesia serta perwakilan dari Hizbut Tahrir Inggris, Turki, Malaysia dan negara-negara Afrika. Hizbut Tahrir merupakan organisasi massa yang berdiri pada tahun 1953 di Al-Quds (Baitul Maqdis), Palestina. Gerakan yang menitik beratkan perjuangan membangkitkan umat di seluruh dunia untuk mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya kembali Khilafah Islamiyah ini dipelopori oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama alumni Al-Azhar Mesir, dan pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah di Palestina. Hizbut Tahrir kini telah berkembang ke seluruh negara Arab di Timur Tengah, termasuk di Afrika seperti Mesir, Libya, Sudan dan Aljazair. Juga ke Turki, Inggris, Perancis, Jerman, Austria, Belanda, dan negara-negara Eropah lainnya hingga ke Amerika Serikat, Rusia, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Pakistan, Malaysia, Indonesia, dan Australia. Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an dengan merintis dakwah di kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an ide-ide dakwah Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai aktivitas dakwah di masjid, perkantoran, perusahaan, dan perumahan. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
