
Perempuan, Anak-anak Tewas Dalam Serangan di DR Kongo

Goma, DR Kongo, (Antara/AFP) - Sebanyak 22 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dicincang dan dipukuli sampai mati oleh pemberontak Uganda di kawasan bergejolak di timur Republik Demokratik Kongo, hanya beberapa hari setelah terjadinya pembantaian serupa. Serangan terbaru itu memantik seruan bagi pasukan PBB untuk melindungi warga lokal yang rentan, saat pemberontak yang telah meneror Kivu Utara selama dua dasawarsa melawan upaya-upaya untuk mengusir mereka keluar. Kekerasan terbaru pada Jumat petang di kota Eringeti menyebabkan 10 perempuan, delapan anak-anak dan empat lelaki tewas, kata pejabat pemerintah setempat Amisi Kalonda kepada AFP. "Sebagian besar korban dibunuh dengan parang, kapak dan cangkul," kata organisasi non-pemerintah Civil Society North Kivu dalam sebuah pernyataan. Beberapa anak dibenturkan kepalanya ke tembok, katanya seraya menuduh pemberontak Aliansi Pasukan Demokratik dan Tentara Nasional Pembebasan Uganda (ADF-NALU), satu-satunya milisi yang masih aktif di kawasan itu. Kalonda, administrator pemerintah di kawasan itu mengatakan, ia tengah menuju Eringeti bersama tentara. Eringeti berjarak sekitar 50 kilometer dari kota Beni, berpenduduk sekitar setengah juta jiwa dimana 26 warga pada Kamis digorok dengan parang. Kelompok pemberontak juga dituding bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dieksekusi dengan kejam Pemberontak Uganda melakukan serangkaian aksi kejam sejak mereka dikejar oleh tentara Uganda pada 1990-an hingga memasuki kawasan negara tetangga Kongo. Militer Kongo, didukung oleh pasukan perdamaian PBB dari misi MONUSCO sebelumnya berhasil memberikan pukulan telak bagi pemberontak. Namun pemberontak kembali pulih, menyerang desa-desa terpencil sebelum menyasar Beni, kota yang dicapai dalam waktu satu hari perjalanan darat dari ibukota Goma. Mereka diyakini masih berjumlah sekitar 400 orang. Kelompok masyarakat madani Kivu Utara mengatakan setidaknya 79 orang "dieksekusi dengan kejam oleh ADF" selama dua pekan terakhir, dan meminta pasukan PBB untuk memberikan bantuan berupa personel tentara, bukan hanya logistik, untuk menghadapi pemberontak. Kelompok tersebut mengatakan anggotanya akan bertemu di Beni pada Sabtu untuk memutuskan langkah yang akan mereka ambil untuk melindungi diri. Menurut sumber PBB, lebih dari 50 perempuan juga diperkosa di Kivu Utara dan di provinsi tetangga Orientale dalam tempo seminggu. Dipimpin oleh Jamil Mukulu, seorang penganut Kristen yang berpindah ke Islam, ADF-NALU bersembunyi di pegunungan Ruwenzori sepanjang perbatasan dengan Uganda selama hampir dua dekade. Pemberontak yang dituduh melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia termasuk menggunakan bocah sebagai tentara, mendanai mereka sendiri dengan menyelundupkan emas dan kayu. Beni merupakan penghubung utama bagi kayu-kayu yang akan dikirim ke Uganda. Mereka mulai kehilangan benteng pertahanan utama dari militer dan PBB mulai Januari, dan menjadi sasaran sanksi dari Dewan Keamanan pada Juli. Pejabat PBB untuk kemanusiaan di Provinsi Orientale, Maurizio Giuliano mengungkapkan kekhawatiran bahwa pemberontak akan semakin menggoyahkan kestabilan di kawasan kaya mineral itu. Aksi kekerasan itu terjadi saat pemerintah Kongo menyatakan "persone non grata" utusan PBB untuk HAM di negara tersebut, setelah laporan PBB mengecam kekerasan yang dilakukan polisi. PBB mengatakan tidak mendapat pemberitahuan atas rencana untuk mengusir utusannya Scott Campbell, namun mengatakan bahwa tindakan itu akan menimbulkan "kekhawatiran mendalam". (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
