
Pengamat Sangsikan Elektabilitas Anas-Hidayat Lima Besar

Jakarta, (ANTARA) - Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto menyangsikan hasil survei yang memposisikan sosok Anas Urbaningrum dan Hidayat Nur Wahid dalam lima besar capres muda alternatif dari sisi elektabilitas. "Saya melihat ada nama yang belum meyakinkan masuk dalam 'top of mind' khalayak terkait dengan elektabilitasnya. Sebut saja nama Anas dan Hidayat Nur Wahid," kata Gun, dihubungi dari Jakarta, Minggu. Pernyataan Gun menyikapi hasil survei Institute Survei Indonesia (INSIS) yang memposisikan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, Sekjen DPP PDIP Pramono Anung, Anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum berturut-turut menduduki lima besar capres muda dari sisi elektabilitas. Gun mengatakan perlu diteliti lebih lanjut terkait metodologi yang digunakan dalam hasil survei tersebut, sebab ada nama yang belum meyakinkan masuk dalam "top of mind" khalayak terkait dengan elektabilitasnya. "Sebut saja nama Anas, apakah benar elektabilitasnya masih masuk lima besar seperti yang ada di survei itu. Mengingat sejumlah persoalan yang sejak lama bersinggungan dengan 'current image' Anas maupun reputasinya sebagai politisi muda," ujar Gun. Gun berpendapat, meskipun Anas belum tentu terbukti terlibat sejumlah kasus yang selama ini dilekatkan kepadanya, seperti Hambalang, namun opini publik diduga telah menggerus citra dan reputasi Anas sebagai kandidat potensial. Gun juga menyangsikan posisi Hidayat Nur Wahid dalam lima besar survei tersebut, sebab Hidayat pernah mengalami kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta. Selain itu menurut dia partai tempat Hidayat bernaung, yakni PKS, dalam waktu belakangan juga mendapatkan persepsi kurang positif dari publik atas pilihan-pilihan sikapnya. Sementara itu terkait masuknya nama Priyo Budi Santoso, Pramono Anung dan Puan Maharani dalam lima besar capres muda alternatif, menurut Gun hal itu masih memiliki kewajaran. Gun mengatakan bahwa sah-sah saja melakukan survei terhadap sosok-sosok capres alternatif yang ada. Namun dia mengingatkan bahwa survei "pre-election" masih dapat berkembang dan berubah-ubah. "Survei ini sifatnya masih dinamis dan wajar akan mengerucut ke sejumlah nama yang ada dalam perangkingan khalayak," kata dia. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
