Padang (ANTARA) - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah membuka kegiatan Pelatihan Penyusunan Rencana Kontingensi (Renkon) Bencana bagi 30 orang peserta yang terdiri dari ASN pemerintah provinsi, TNI, Polri, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan LSM di Sumbar.
Gubernur Mahyeldi menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana di Sumatera Barat yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana, khususnya banjir, banjir bandang, dan gempa bumi.
“Sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, akademisi, serta masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun kesiapsiagaan yang efektif dan responsif terhadap potensi bencana,” ujarnya.
Menurutnya perintah agar bersiap sebelum terjadi juga telah tercantum dalam Al Quran Surat Az Zummar ayat (55) dan Al Anfal ayat (30), sehingga cocok dengan pelatihan yang dilakukan.
Ia berharap melalui pelatihan tersebut, peserta mampu menyusun dokumen renkon yang komprehensif, terukur, dan aplikatif, serta mampu diimplementasikan secara terpadu oleh seluruh pemangku kepentingan.
Selanjutnya alumni pelatihan akan dilibatkan dalam penyusunan Renkon di daerah masing-masing, sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem penanggulangan bencana berbasis kolaborasi.
"Kita juga berharap dengan terselenggaranya pelatihan ini, akan terbangun sinergi yang kuat dan berkelanjutan antar seluruh elemen dalam menghadapi potensi bencana, sehingga mampu meminimalkan risiko serta dampak yang akan terjadi bagi masyarakat Sumatera Barat," katanya.
Sementara itu, ketua panitia Barlius mengatakan pelatihan berlangsung secara blended learning. Tahap e-learning tgl 30 Maret hingga 3 April 2026, klasikal tatap muka di BPSDM Sumbar 6 hingga 10 April 2026. Pelatihan juga dilengkapi dengan study field ke BPBD Kabupaten Padang Pariaman.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi bersama jajaran BPSDM dan peserta pelatihan. (ANTARA/HO-BPSDM)
Pelatihan difokuskan pada penyusunan dokumen renkon untuk tiga skenario bencana utama, yaitu banjir, yang kerap terjadi akibat curah hujan tinggi dan sistem drainase yang belum optimal; Banjir bandang, yang berpotensi terjadi di wilayah perbukitan dan aliran sungai dengan karakteristik curam; dan gempa bumi, mengingat posisi Sumatera Barat yang berada di zona rawan seismik.
Pelatihan itu juga dihadiri pejabat struktural BPSDM, Dankodaeral II Padang, Danlanud St. Syahrir, Polda Sumbar, Kalaksa BPBD Sumbar, PMI, Ketua Kogami.
Juga Tim Fasilitator dari BNPB Khalid Syaifullah, dari Forum PRB Dira Octavian dan dari BPBD Sumbar, Monita.*