JK: Penarikan Dubes Masih Tindakan Ringan
Rabu, 20 November 2013 20:08 WIB
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Antara)
Yogyakarta, (Antara) - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kebijakan pemerintah melakukan penarikan terhadap Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia merupakan tindakan protes yang masih ringan terhadap kasus penyadapan.
"Pemanggilan dubes dari Australia itu masih ringan. Itu baru langkah awal," katanya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu.
Menurut Kalla, pemerintah Indonesia harus berani melakukan protes keras terkait tindakan penyadapan yang dilakukan oleh pihak Australia.
Protes keras, katanya, harus dilakukan pemerintah Indonesia, sebab pemerintah Australia bahkan tidak bersedia meminta maaf terkait dengan perbuatannya itu.
Padahal, katanya, pernyataan maaf dari pemerintah Australia merupakan hal penting untuk menjaga hubungan bilateral kedua negara tersebut.
"Sebenarnya jalan keluar akhirnya adalah Australia mau minta maaf atas perbuatannya itu. Australia seharusnya berani minta maaf," katanya.
Kalla yang juga pernah menjadi objek penyadapan semasa menjabat Wakil Presiden periode 2004-2009 itu juga mengaku heran terhadap aksi penyadapan tersebut.
Ia menilai penyadapan itu tidak memiliki alasan yang kuat.
"Ya, penyadapan terhadap ponsel saya itu sewaktu saya masih menjabat wakil presiden. Saya sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ingin diketahui Australia. Terkait keamanankah atau yang lainnya," katanya.
Harian Sydney Morning Herald (SMH) dari Australia dan The Guardian dari Inggris, terbitan Senin (18/11), mengungkap bahwa penyadapan tidak hanya telepon seluler Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Penyadapan yang dimulai sejak 2007 itu juga ditujukan pada pejabat dan orang dekat SBY, seperti Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla, Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal, dan Andi Mallarangeng.
Australia juga menyadap Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menko Polhukam Widodo A.S., dan Menteri BUMN Syofyan Djalil. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi klarifikasi tolak bantuan pendampingan korban penembakan di tol
04 January 2025 14:12 WIB, 2025
141 anggota termasuk Jepang dukung resolusi, PBB desak Rusia tarik pasukan dari Ukraina
24 February 2023 9:47 WIB, 2023
BBPOM Sumbar: Belasan ribu botol obat sirup terlarang ditarik dari pasar
27 October 2022 19:20 WIB, 2022
Tanggapan Kemenperin terkait penarikan Mie Sedaap di beberapa negara
21 October 2022 10:33 WIB, 2022
Masalah perangkat pengingat tekanan ban, Ford akan tarik 2.900 truk listrik F-150 Lightning
28 June 2022 7:13 WIB, 2022
Dolar AS melemah, investor terima berita tentang krisis Ukraina-Rusia
16 February 2022 6:36 WIB, 2022
Harga minyak reli, penarikan persediaan AS kurangi kekhawatiran atas Omicron
23 December 2021 6:31 WIB, 2021
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Legislator: Percepat Pembangunan Gedung Rehabilitasi Pecandu Narkoba
08 January 2018 18:30 WIB, 2018
Kapolres Padang Pastikan Pilkada Jadi Prioritas Pengamanan Tahun Ini
06 January 2018 14:03 WIB, 2018
Demi Rp100 Juta, Tiga Kurir Ini Nekat Bawa 1,3 Ton Ganja dari Aceh ke Jakarta
04 January 2018 19:49 WIB, 2018
Kejari Pesisir Selatan Nyatakan Tidak Pernah Terima Tembusan Diversi Lakalantas
04 January 2018 17:53 WIB, 2018