Medsos berperan ungkap kasus kekerasan pada perempuan
Selasa, 8 Maret 2022 13:58 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga. (ANTARA/ Anita Permata Dewi)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mengatakan semakin masifnya penggunaan media sosial ikut berperan dalam mengungkap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.
"Penggunaan media sosial turut andil untuk mengungkap berbagai kasus kekerasan pada perempuan," kata Menteri Bintang dalam webinar bertajuk "Lawan Tabu, Perempuan Berani Bersuara" yang diikuti di Jakarta, Selasa.
Dari data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simponi-PPA), selama tahun 2019-2021, terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan maupun anak yang dilaporkan.
Menurut dia, tren meningkatnya pelaporan kasus ini, artinya masyarakat mulai berani untuk melapor.
Dalam momentum peringatan Hari Perempuan Internasional ini, Menteri Bintang meminta para mahasiswa untuk berani melawan kekerasan terhadap perempuan.
"Agar semakin memperkuat semangat perjuangan kita semua, terutama para mahasiswa untuk berani melawan kekerasan terhadap perempuan demi terciptanya Indonesia dan dunia yang maju dan setara," pesannya.
Pada Desember 2021, Kementerian PPPA merilis Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021. Dari survei tersebut, prevalensi kekerasan fisik dan atau seksual yang dilakukan pasangan dan selain pasangan tahun 2021 dialami oleh 26,1 persen perempuan atau 1 dari 4 perempuan usia 15 - 64 tahun selama hidupnya.
"Meskipun mengalami penurunan prevalensi kekerasan, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sangat memprihatinkan," imbuhnya.
Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2021, menggambarkan bahwa anak perempuan lebih banyak mengalami satu jenis kekerasan atau lebih sepanjang hidupnya dibandingkan dengan anak laki-laki.
"Data ini sekaligus mengingatkan kita bahwa perjalanan kita (melawan kekerasan) masih panjang," kata Bintang.
"Penggunaan media sosial turut andil untuk mengungkap berbagai kasus kekerasan pada perempuan," kata Menteri Bintang dalam webinar bertajuk "Lawan Tabu, Perempuan Berani Bersuara" yang diikuti di Jakarta, Selasa.
Dari data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simponi-PPA), selama tahun 2019-2021, terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan maupun anak yang dilaporkan.
Menurut dia, tren meningkatnya pelaporan kasus ini, artinya masyarakat mulai berani untuk melapor.
Dalam momentum peringatan Hari Perempuan Internasional ini, Menteri Bintang meminta para mahasiswa untuk berani melawan kekerasan terhadap perempuan.
"Agar semakin memperkuat semangat perjuangan kita semua, terutama para mahasiswa untuk berani melawan kekerasan terhadap perempuan demi terciptanya Indonesia dan dunia yang maju dan setara," pesannya.
Pada Desember 2021, Kementerian PPPA merilis Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021. Dari survei tersebut, prevalensi kekerasan fisik dan atau seksual yang dilakukan pasangan dan selain pasangan tahun 2021 dialami oleh 26,1 persen perempuan atau 1 dari 4 perempuan usia 15 - 64 tahun selama hidupnya.
"Meskipun mengalami penurunan prevalensi kekerasan, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sangat memprihatinkan," imbuhnya.
Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2021, menggambarkan bahwa anak perempuan lebih banyak mengalami satu jenis kekerasan atau lebih sepanjang hidupnya dibandingkan dengan anak laki-laki.
"Data ini sekaligus mengingatkan kita bahwa perjalanan kita (melawan kekerasan) masih panjang," kata Bintang.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri Bintang: Ibu perlu dorong anggota keluarga perokok stop merokok
06 June 2023 21:18 WIB, 2023
Menteri: Perlu upaya cegah urbanisasi perempuan jadi pekerja rumah tangga
30 April 2023 18:22 WIB, 2023
Hukuman seumur hidup bagi pelaku kekerasan seksual, Ini pendapat MenPPPA
01 February 2023 17:01 WIB, 2023
Menteri PPPA ajak gotong royong penuhi hak perempuan dan anak korban gempa
30 January 2021 12:20 WIB, 2021
Hari Ibu, Menteri PPPA: perempuan masih terjajah konstruksi sosial merugikan
22 December 2020 11:50 WIB, 2020
Menteri PPPA: buku cerita bisa jadi media beri pemahaman COVID-19 pada anak
03 May 2020 13:21 WIB, 2020