Iran ciptakan detektor COVID-19 jarak jauh
Rabu, 15 April 2020 21:06 WIB
Suasana tempat tidur di sebuah pusat perbelanjaan, salah satu yang terbesar di Iran, yang diubah menjadi pusat penerimaan pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) di Teheran, Iran, Sabtu (4/4/2020). ANTARA/VIA REUTERS/WANA NEWS AGENCY/TM
Teheran (ANTARA) - Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) pada Rabu memperkenalkan sebuah perangkat yang mampu mendeteksi pengidap virus corona dari kejauhan, demikian dilaporkan Kantor Berita Tasnim.
Dengan menggunakan detektor pintar, diagnosis virus corona tidak lagi memerlukan tes darah sebab alat tersebut dari kejauhan mampu mengidentifikasi mereka yang tertular COVID-19, kata ketua komandan IRGC, Hossein Salami.
Perangkat itu nantinya dapat "melacak setiap kasus virus corona dalam radius 100 meter di daerah sekitar yang dipasang medan magnet ... dalam waktu sekitar lima detik," tambah Salami.
Alat itu juga digunakan untuk operasi disinfekstan yang cepat dan terarah karena tidak perlu membersihkan permukaan yang tidak terkontaminasi, katanya.
Menurut Salami, perangkat buatan sendiri itu merupakan instrumen terbaru yang dikembangkan oleh ilmuwan Iran setelah wabah COVID-19 muncul.
Iran menjadi salah satu negara yang paling parah terdampak virus corona. Hingga kini, tercatat 74.877 kasus COVID-19 termasuk 4.683 kematian sejak penyakit tersebut muncul di Iran pada 19 Februari.
Sumber: Xinhua
Dengan menggunakan detektor pintar, diagnosis virus corona tidak lagi memerlukan tes darah sebab alat tersebut dari kejauhan mampu mengidentifikasi mereka yang tertular COVID-19, kata ketua komandan IRGC, Hossein Salami.
Perangkat itu nantinya dapat "melacak setiap kasus virus corona dalam radius 100 meter di daerah sekitar yang dipasang medan magnet ... dalam waktu sekitar lima detik," tambah Salami.
Alat itu juga digunakan untuk operasi disinfekstan yang cepat dan terarah karena tidak perlu membersihkan permukaan yang tidak terkontaminasi, katanya.
Menurut Salami, perangkat buatan sendiri itu merupakan instrumen terbaru yang dikembangkan oleh ilmuwan Iran setelah wabah COVID-19 muncul.
Iran menjadi salah satu negara yang paling parah terdampak virus corona. Hingga kini, tercatat 74.877 kasus COVID-19 termasuk 4.683 kematian sejak penyakit tersebut muncul di Iran pada 19 Februari.
Sumber: Xinhua
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Iran penjarakan pengunggah video roket yang menghantam pesawat Ukraina
15 January 2020 10:40 WIB, 2020
Agar tak bobol, TP4D Kejari Pariaman dampingi proyek senilai ratusan miliar di Padang Pariaman
28 October 2019 21:21 WIB, 2019
Masih ingat pengawal setia Raja Salman berkepala gundul, cekcok dengan rekan Al Faghm tewas tertembak
29 September 2019 21:29 WIB, 2019
Zulkifli Hasan: peran MPR sebagai rumah kebangsaan, pengawal ideologi dan kedaulatan rakyat
16 August 2019 9:40 WIB, 2019
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Di Indonesia-Afrika CEO Forum, Wapres Gibran umumkan kebijakan bebas visa untuk Afsel
22 November 2025 4:42 WIB