Padang Panjang, (ANTARA) - Kabut mulai turun dari lereng-lereng Gunung Singgalang, Sumatera Barat. Bersamaan dengan itu angin dingin dari lembah-lembah Gunung Merapi dan Gunung Tandikek juga merayap membawa rasa gigil. Di sana, di sebuah kota kecil yang berdiri di antara tiga gunung itu mereka bertemu.

Lalu, matahari sore awal November seolah tersuruk dalam kabut di kota kecil itu, Padang Panjang. Suasana tiba-tiba terasa lindap. Padahal jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB. Masih cukup panjang waktu untuk beberapa lembar buku menjelang senja, sambil ditemani tegukan kopi.

Kopi itu baru saja diseduh di sebuah kedai sederhana di salah satu sudut Kota Padang Panjang, di Kelurahan Silaiang Bawah. Uap airnya mengambang bersama udara, membawa harum aroma khas kopi dataran tinggi Ranah Minang.

Kedai itu biasa saja. Punya ruangan yang tidak terlalu besar dengan satu meja yang diapit dua jejer bangku. Beberapa jenis jajanan diatur rapi di tengah-tengah meja, memajang pada satu garis. Mirip dengan sebagian besar kedai rakyat di Sumbar.

Yang membedakan adalah rak-rak yang dipenuhi ratusan buku dengan berbagai judul di tepi dinding. Ada tiga rak yang disusun "nyeni", agak "menonjol", sehingga bisa langsung menarik perhatian pengunjung. Buku-buku itu bisa dibaca secara gratis tanpa dipungut bayaran.

Ruang baca Rimba Bulan. Begitu nama yang disematkan pada tempat minum kopi sekaligus tempat memuaskan nostalgia dengan lembar-lembar buku itu. Kedai itu didirikan oleh dua saudara Alvin Nur Akbar dan Jumadil Fajar bersama sejumlah relawan pada 14 Oktober 2018.

Nostagia, kata yang mungkin agak sarkastik. Tetapi, tidakkah kata itu yang paling bisa menggambarkan realita tentang buku saat ini? Dalam dunia yang telah "terjerumus" serba digital ini, membaca lembar-lembar buku secara fisik mulai terabaikan. Kertas buku telah berganti file pdf atau file-file lain yang ramah untuk gawai.

Membaca sekarang adalah tenggelam dalam sinar biru gawai yang mengintai retina dan pantulan ultraviolet yang memicu kanker kulit. Maka dalam kondisi itu, membaca buku kini menjadi sebuah nostalgia.

Beberapa pengunjung sedang asyik menikmati nostalgianya sambil menyeruput kopi hangat. Mereka hanyut dalam bacaan dari buku-buku itu. Melahap lembar demi lembar. Buku dan kopi kemudian menjadi duet maut yang sulit dipisahkan.

Buku itu bukan buku baru tentu saja. Itu buku sumbangan dari berbagai pihak yang peduli dengan literasi. Buku yang dikumpulkan oleh pada relawan yang tergabung dalam Ruang Baca Rimba Bulan dengan membuat pengumuman hingga menghubungi relasi satu per satu.

Sepriadi, relawan yang didaulat sebagai Kapten Literasi di Rimba Bulan menuturkan target utama mereka sebenarnya anak-anak usia sekolah yang berada di lingkungan Silaiang Bawah, Padang Panjang. Anak usia SD hingga SMA.

Anak-anak itu saban hari terbuai dalam aplikasi gawai yang menawarkan permainan dan tontonan yang menarik. Waktu main gawai, malah lebih panjang dari pada jam sekolah. Setidaknya dari pulang sekolah hingga adzan maghrib berkumandang. Itupun kalau tidak lagi disambung menjelang tidur.

"Sekarang minat baca anak-anak itu amat memprihatinkan. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk main game atau nonton streaming di gawai. Ini yang membuat kami prihatin. Kami mencoba mendirikan Ruang Baca Rimba Bulan untuk mengajak mereka untuk kembali membaca," kata Sepriadi.

Rasa prihatin itu, ditambah api semangat yang terpantik usai menjadi relawan pada Temu Penyair Asia Tenggara, mendorong dia untuk mendirikan sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sendiri. Untuk menyalurkan api yang tengah hangat bergelora di dada.

Namun mendirikan tempat bacaan di tengah badai digitalisasi dan game-game daring bukan perkara mudah. Setelah berjuang "mendirikan" tempat dan mendapatkan buku melalui relasi, mereka harus berjuang lebih ekstra untuk mengajak anak-anak untuk datang membaca. TBM, apa pula namanya jika tidak ada yang datang membaca.

Awal-awalnya, mereka hanya mengajak anak-anak itu untuk pindah main game ke Ruang Baca Rimba Bulan. Hanya main game, tanpa ada ajakan membaca. Ruang yang cukup lega, angin sepoi-sepoi dan bangku serta meja kayu yang diatur artistik membuat anak-anak itu betah. Apalagi di situ ada kedai jika mereka "kebelet" belanja.

Setelah cukup ramai anak-anak yang sering berkumpul, para relawan baru mulai "misi" dengan mengajarkan beberapa aplikasi yang bisa menarik perhatian, seperti editing video.

Latar belakang relawan di Rimba Bulan sangat beragam, mulai dari seniman, pendidikan, videografer, musik hingga teknik. Hal itu menguntungkan karena beragam program dan kegiatan bisa dibuat untuk mendorong minat anak-anak agar suka membaca.

Program editing video salah satunya. Dasar-dasar editing yang diberikan sengaja "serba nanggung". Hal itu sebagai salah satu strategi untuk memancing rasa ingin tahu anak. Setelah mereka tertarik dan banyak bertanya, para relawan langsung menunjuk ke arah buku. Bahwa segala pertanyaan mereka itu bisa dijawab dengan membaca buku.

Musik dan lukisan adalah strategi selanjutnya. Beberapa relawan Ruang Baca Rimba Bulan adalah pemusik dan pelukis andal. Kemampuannya diasah di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Tidak heran bila karya mereka begitu menarik untuk dinikmati.

Kolaborasi gitar, biola dan marching bell yang kadang dimainkan secara spontan sambil beristirahat begitu merdu di telinga. Musik itu bagai magnet yang menarik anak-anak untuk datang. Begitu pula halnya dengan lukisan.

Sebagian malah minta diajari bermusik atau melukis agar bisa menjadi "hebat". Imajinasi anak-anak itu mulai hidup kembali. Keinginan mereka menggebu untuk bisa belajar. Itulah poin pentingnya. Setelah itu menjadi lebih mudah untuk menarik mereka ke dunia buku.


Kaciyo

Kaciyo adalah bahasa Minangkabau untuk celengan. Kaciyo itu sengaja diletakkan di Ruang Baca Rimba Bulan oleh pengurusnya. Sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang dikelola secara swadaya, anggaran kadang memang menjadi kendala. Apalagi jika kegiatan sudah mulai banyak.

Masyarakat dan pejabat yang mulai sering datang ke tempat itu diharapkan bisa mengisi kaciyo itu seikhlasnya untuk membantu program yang digagas.

Saat ini, Ruang Baca Rimba Bulan selain mengajak anak-anak membaca juga membuka kelas musik, melukis, hingga diskusi dengan menghadirkan berbagai tokoh sebagai pembicara.

Koordinator Forum Pegiat Literasi (FPL) Padang Panjang Muhammad Subhan mengatakan Ruang Baca Rimba Bulan menjadi salah satu TBM yang disiapkan untuk memperkuat kampung-kampung literasi yang sedang tumbuh di Kota Padang Panjang pascakota itu dicanangkan sebagai Kota Literasi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, (5/5/2018).

Ruang Baca Rimba Bulan mulai berjalan menuju satu titik yang menjadi tujuan sesuai filosofinya. Salah seorang relawan, Dina, yang memberikan nama untuk ruang baca itu mengatakan, rimba (hutan) memiliki filosofi kota yang dikelilingi oleh rimba-rimba lebat, (Singgalang, Marapi, Tandikek, Bukit Tui). Rimba juga menjadi simbol kegelapan. Sedangkan bulan merupakan benda langit yang bercahaya di malam gelap. Rimba Bulan diharapkan menjadi cahaya yang terpancar dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehingga menghalau kegelapan.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumbar, Zirma Yusri menilai kolaborasi antara UMKM dengan bidang lain seperti literasi akan sangat baik untuk perkembangan usaha juga untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat.

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu kira-kira perumpamaan yang bisa diberikan. Ia mendukung penuh pengembangan usaha berbasis kolaborasi itu.(*)

 

Pewarta : Miko Elfisha
Editor : Mukhlisun
Copyright © ANTARA 2024