Sandiaga Uno: Generasi milenial harus persiapkan diri hadapi revolusi 4.0
Kamis, 12 September 2019 20:45 WIB
Sandiaga Salahuddin Uno di Convention Hall Unand Padang. (Antara Sumbar/Laila Syafarud)
Padang, (ANTARA) - Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan generasi milenial harus mempersiapkan diri dalam menghadapi revolusi 4.0.
"Salah satu usaha yang dilakukan oleh generasi muda agar menjadi wirausaha yang maju ialah selain berkompetisi mereka juga harus mampu berkolaborasi," ujar dia pada seminar nasional di kampus Unand dalam rangka memperingati ulang tahun ke-63 Unand di Padang, Kamis.
Ia mengatakan pada 2030 Indonesia akan menjadi negara ekonomi terbesar ke tujuh di dunia, dan di 2045 Indonesia akan berada di peringkat lima besar ekonomi dunia.
"Namun tidak akan terwujud jika anak muda tidak berani berjuang dan berkolaborasi," sambung dia.
Ia juga menyebutkan ada tiga hal yang harus dilakukan generasi milenial dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yakni rajin berolah raga, banyak membaca, dan memperbanyak teman.
Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) 2018, sebanyak 264.092 pekerja migran Indonesia ialah dari kalangan milenial yakni sekitar 35 persen.
"Hal ini disebabkan karena mencari pekerjaan di Indonesia susah sehingga banyak kaum milenial yang mencari pekerjaan ke luar negeri," kata dia.
Selain itu data Internasional Labor Organization dan Organisasi Buruh Internasional, 15,8 persen anak muda di Indonesia usia 15-24 tahun masih menganggur, angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pengangguran di dunia, dan 17 persen populasi di Indonesia berumur 15 sampai 24 tahun.
"Tentu ini menjadi tantangan bagi para generasi muda," ujar dia.
Bahkan pengangguran sudah menjadi isu nasional, karena dari pengangguran akan muncul masalah-masalah sosial berupa kesenjangan sosial, ketimpangan kesejahteraan yang belum merata, dan masalah kemiskinan.
"Bahkan tercatat pada 2006 hingga 2016 Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat pengangguran generasi muda tertinggi di dunia," sambung dia.
Di era revolusi industri 4.0 generasi muda mesti berhadapan dengan digitalisasi yang semakin berkembang.
"Dengan adanya kemajuan teknologi ini maka muncul tren yang dioptimasi atau diambil alih oleh mesin," katanya.
Sementara pencapaian pendidikan di kalangan pekerja di Indonesia telah meningkat selama bertahun-tahun, akan tetapi banyak tenaga kerja yang memiliki kualifikasi pendidikan yang rendah.
Untuk itu ia mengharapkan supaya negerasi muda mempersiapkan diri untuk menghadapi revolusi industri 4.0 dengan melakukan pelatihan dan mempersiapkan keterampilan.
Selain itu ia juga meluncurkan Rumah Siap Kerja (RSK) sebagai solusi bagi para generasi muda untuk mendapatkan bimbingan karir, mencari informasi lowongan kerja, pelatihan, pendidikan, atau beasiswa. (*)
"Salah satu usaha yang dilakukan oleh generasi muda agar menjadi wirausaha yang maju ialah selain berkompetisi mereka juga harus mampu berkolaborasi," ujar dia pada seminar nasional di kampus Unand dalam rangka memperingati ulang tahun ke-63 Unand di Padang, Kamis.
Ia mengatakan pada 2030 Indonesia akan menjadi negara ekonomi terbesar ke tujuh di dunia, dan di 2045 Indonesia akan berada di peringkat lima besar ekonomi dunia.
"Namun tidak akan terwujud jika anak muda tidak berani berjuang dan berkolaborasi," sambung dia.
Ia juga menyebutkan ada tiga hal yang harus dilakukan generasi milenial dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yakni rajin berolah raga, banyak membaca, dan memperbanyak teman.
Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) 2018, sebanyak 264.092 pekerja migran Indonesia ialah dari kalangan milenial yakni sekitar 35 persen.
"Hal ini disebabkan karena mencari pekerjaan di Indonesia susah sehingga banyak kaum milenial yang mencari pekerjaan ke luar negeri," kata dia.
Selain itu data Internasional Labor Organization dan Organisasi Buruh Internasional, 15,8 persen anak muda di Indonesia usia 15-24 tahun masih menganggur, angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pengangguran di dunia, dan 17 persen populasi di Indonesia berumur 15 sampai 24 tahun.
"Tentu ini menjadi tantangan bagi para generasi muda," ujar dia.
Bahkan pengangguran sudah menjadi isu nasional, karena dari pengangguran akan muncul masalah-masalah sosial berupa kesenjangan sosial, ketimpangan kesejahteraan yang belum merata, dan masalah kemiskinan.
"Bahkan tercatat pada 2006 hingga 2016 Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat pengangguran generasi muda tertinggi di dunia," sambung dia.
Di era revolusi industri 4.0 generasi muda mesti berhadapan dengan digitalisasi yang semakin berkembang.
"Dengan adanya kemajuan teknologi ini maka muncul tren yang dioptimasi atau diambil alih oleh mesin," katanya.
Sementara pencapaian pendidikan di kalangan pekerja di Indonesia telah meningkat selama bertahun-tahun, akan tetapi banyak tenaga kerja yang memiliki kualifikasi pendidikan yang rendah.
Untuk itu ia mengharapkan supaya negerasi muda mempersiapkan diri untuk menghadapi revolusi industri 4.0 dengan melakukan pelatihan dan mempersiapkan keterampilan.
Selain itu ia juga meluncurkan Rumah Siap Kerja (RSK) sebagai solusi bagi para generasi muda untuk mendapatkan bimbingan karir, mencari informasi lowongan kerja, pelatihan, pendidikan, atau beasiswa. (*)
Pewarta : Laila Syafarud
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Memparekraf: Kemenangan Bastianini di Qatar pertanda baik untuk Indonesia
07 March 2022 13:42 WIB, 2022
Harta kekayaan enam menteri baru Kabinet Indonesia Maju, Sandiaga Uno paling kaya
22 December 2020 18:53 WIB, 2020
Terpopuler - Kampus
Lihat Juga
Sri Meiyenti resmi raih gelar Doktor, angkat perspektif budaya dalam pencegahan stunting di Sumbar
03 February 2026 20:23 WIB
Unbrah gelar Promosi Bersanding dengan kampus ternama nasional dalam Edufair Bengkulu 2026
08 January 2026 6:23 WIB
Dosen Fikes Unbrah gelar Gencat Seni guna cegah stunting sejak remaja di SMAN 13 Padang
14 November 2025 11:43 WIB