Harga tenunan songket mahal karena ini
Minggu, 26 Agustus 2018 13:51 WIB
Seorang pengrajin sedang menyelesaikan tenunan Songket Pandai Sikek di Nagari Pandai Sikek Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. (Antara Sumbar/Syahrul R/18)
Batusangkar,(Antaranews Sumbar) - Sebagai kerajinan tangan, tidak heran sebenarnya jika tenunan songket yang ada di Sumatera Barat, dijual dengan harga yang tinggi, hal tersebut lantaran songket diproduksi secara manual oleh tangan-tangan yang ahli.
Salah seorang pengusaha tenunan Songket Pandai Sikek Tanah Datar, Erma Yulnita di Batusangkar, Minggu, mengatakan selain karena tingkat kerumitan yang cukup tinggi saat menenun, keberadaan bahan baku juga menjadi salah satu faktor penyebab harga songket mahal.
"Dari semua bahan, beberapa diantaranya harus didatangkan dari luar negeri, seperti benang emas yang harus didatangkan dari India atau Jepang," katanya.
Erma menuturkan, benang emas merupakan salah satu bahan penting dalam pembuatan songket, sementara bahan lainnya seperti sutera dan katun masih bisa didapatkan dari dalam negeri
Selain itu, motif-motif yang ada pada songket merupakan motif tradisional Minang yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi selama pengerjaan, sehingga membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu tenunan.
"Untuk menyelesaikan satu tenunan dituntut keahlian dan kesabaran dari seorang pengrajin," katanya.
Untuk harga paling mahal, Songket Pandai Sikek dijual dengan harga Rp15 juta rupiah dan yang paling murah seharga Rp1.5 juta rupiah.
Harga paling mahal tersebut merupakan harga untuk songket yang terbuat dari bahan sutera dan yang termurah terbuat dari bahan katun.
Pengusaha songket lainnya, Sarianti Ayunda mengatakan hal lain yang menyebabkan tenunan songket dijual dengan harga tinggi adalah terkait pewarna yang digunakan.
Pengusaha sekaligus pengrajin Songket Silungkang asal Sawahlunto ini menyebutkan, dalam produksi songket ia menggunakan dua bahan pewarna benang, yaitu alami dan sintetis.
Songket yang diproduksi dengan bahan pewarna alami memiliki nilai jual yang cukup tinggi dibanding dengan songket yang diproduksi dengan bahan sintetis.
"Penggunaan bahan alami ini membutuhkan waktu yang lama, mulai dari pengolahan bahan pewarna yang berasal dari alam, pewarnaan benang, hingga proses penenunan," ujarnya.
Sekalipun dijual dengan harga yang terbilang tinggi, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat wisatawan untuk berbelanja songket sebagai buah tangan ketika berkunjung ke Sumbar.*
Salah seorang pengusaha tenunan Songket Pandai Sikek Tanah Datar, Erma Yulnita di Batusangkar, Minggu, mengatakan selain karena tingkat kerumitan yang cukup tinggi saat menenun, keberadaan bahan baku juga menjadi salah satu faktor penyebab harga songket mahal.
"Dari semua bahan, beberapa diantaranya harus didatangkan dari luar negeri, seperti benang emas yang harus didatangkan dari India atau Jepang," katanya.
Erma menuturkan, benang emas merupakan salah satu bahan penting dalam pembuatan songket, sementara bahan lainnya seperti sutera dan katun masih bisa didapatkan dari dalam negeri
Selain itu, motif-motif yang ada pada songket merupakan motif tradisional Minang yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi selama pengerjaan, sehingga membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu tenunan.
"Untuk menyelesaikan satu tenunan dituntut keahlian dan kesabaran dari seorang pengrajin," katanya.
Untuk harga paling mahal, Songket Pandai Sikek dijual dengan harga Rp15 juta rupiah dan yang paling murah seharga Rp1.5 juta rupiah.
Harga paling mahal tersebut merupakan harga untuk songket yang terbuat dari bahan sutera dan yang termurah terbuat dari bahan katun.
Pengusaha songket lainnya, Sarianti Ayunda mengatakan hal lain yang menyebabkan tenunan songket dijual dengan harga tinggi adalah terkait pewarna yang digunakan.
Pengusaha sekaligus pengrajin Songket Silungkang asal Sawahlunto ini menyebutkan, dalam produksi songket ia menggunakan dua bahan pewarna benang, yaitu alami dan sintetis.
Songket yang diproduksi dengan bahan pewarna alami memiliki nilai jual yang cukup tinggi dibanding dengan songket yang diproduksi dengan bahan sintetis.
"Penggunaan bahan alami ini membutuhkan waktu yang lama, mulai dari pengolahan bahan pewarna yang berasal dari alam, pewarnaan benang, hingga proses penenunan," ujarnya.
Sekalipun dijual dengan harga yang terbilang tinggi, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat wisatawan untuk berbelanja songket sebagai buah tangan ketika berkunjung ke Sumbar.*
Pewarta : Syahrul Rahmat
Editor : Miko Elfisha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UNAND-UNIDHA berkolaborasi pemberdayaan pengembangan usaha Tenun Unggan
13 September 2024 22:56 WIB, 2024
Dukung pemberdayaan masyarakat, PT Semen Padang serahkan bantuan alat tenun ke Dolas Songket
04 July 2024 17:33 WIB, 2024
Jamu akan ditetapkan jadi warisan budaya oleh UNESCO, tenun menyusul
17 November 2023 5:10 WIB, 2023
Pengrajin tenun di Tanah Datar dibekali manajemen mutu dan pengelolaan IKM
24 July 2023 17:21 WIB, 2023