Jakarta, (Antara Sumbar) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengharapkan operasi militer Filipina memberikan dampak positif bagi warga negara Indonesia yang masih disandera kelompok pemberontak Abu Sayyaf.


         "Kita mengharapkan sandera yang lain bisa dibebaskan dengan cara mungkin operasi militer Filipina," ujarnya di Kantor Wakil Presiden di Jakarta, Jumat.


         Dia menyambut positif upaya dua awak kapal berkewarganegaraan Indonesia yang berhasil meloloskan diri saat hendak dipancung oleh para sandera.


         Wapres menduga keduanya bisa lolos karena kelompok pimpinan Abu Sayyaf tersebut berpindah-pindah tempat.


         "Mereka berpindah-pindah karena sekarang di Jolo ada operasi militer. Jadi, dalam waktu berpindah-pindah itu tentu ada peluang untuk menghindar atau lari atau apa pun (caranya)," tuturnya.


         Namun, Kalla mengaku belum mendapatkan keterangan resmi mengenai lolosnya kedua WNI yang disandera sejak 23 Juni lalu itu.


         "Nanti kita tunggu (keterangannya) setelah dua orang itu kembali ke Indonesia," kata Wapres meminta wartawan bersabar.


         Seorang awak kapal tunda berkewarganegaraan Indonesia meloloskan diri dari tawanan kelompok garis keras di Filipina, Rabun (17/8), dengan berenang ke laut setelah kelompok militan tersebut mengancam akan memenggal kepalanya, sebagaimana disampaikan juru bicara Angkatan Darat Filipina.


         Sejumlah anggota kelompok Abu Sayyaf menyandera Mohammad Sofyan (28) dan enam pelaut Indonesia lainnya dari kapal mereka setelah melintasi perairan lepas pantai kepulauan wilayah Filipina selatan pada 23 Juni 2016.


         Sejumlah warga Pulau Jolo melihat Sofyan hanyut hingga garis pantai setelah melolosan diri di tengah kegelapan, demikian kata juru bicara AD Filipina Mayor Filemon Tan kepada sejumlah wartawan.


         "Kami diberitahu, dia berhasil melarikan diri dengan berjalan dan berenang ke laut," kata Tan dengan menambahkan bahwa Sofyan mengatakan tentang kelompok militan tersebut akan mengeksekusi dirinya saat dia meloloskan diri.


         Sembilan jam kemudian, sejumlah tentara, yang dikirim kembali ke area tempat Sofyan meloloskan diri dari para penculiknya, menemukan pelaut WNI kedua, Ismail, yang merupakan kepala kapal tunda yang sama dengan Sofyan.


         Sampai saat ini Abu Sayyaf menyandera 15 orang asing, termasuk seorang dari Norwegia, seorang warga Belanda, lima warga Malaysia, dan delapan warga Indonesia.


         Delapan warga Filipina juga ditahan oleh kelompok tersebut di markasnya di hutan. (*)