Natuna,  (Antara) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) akan memperkuat perairan Natuna dengan menambah sejumlah kapal perang dan kapal patroli serta pesawat tempur guna mengamankan wilayah Pulau Natuna dari kejahatan laut dan konflik Laut Tiongkok Selatan.


        "Kita akan perkuat disini (Natuna), baik dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara," kata Menhan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau, Rabu.


        Menurut dia, Pulau Natuna wajib diperkuat sejumlah alutsista yang dimiliki TNI mengingat pulau ini berbatasan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan yang saat ini dirundung konflik. Oleh karena itu pengamanan harus diperketat agar Indonesia tidak terkena dampak konflik tersebut.


        "Disini pulau yang paling jauh di Utara, salah satu pintu gerbang Indonesia. Di utara di laut Cina selatan masih ada ketegangan, antara Cina dan beberapa negara Asean, seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Tentu Amerika juga akan hadir ditengah-tengah ketegangan ini," katanya.


        Selain memberikan rasa aman bagi masyarakat Natuna, peningkatan keamanan juga akan berdampak pada sektor pembangunan dan ekonomi masyarakat. Rakyat Natuna akan merasa aman dan nyaman dalam mengembangkan kegiatan ekonomi.


        "Kedatangan saya akan memberikan rasa aman terutama di Natuna. Kalau pintu gerbang kemasukan, artinya orang lewat tidak tahu ini bisa berbahaya jika sampai masuk ke jantungnya," ujarnya.


        Oleh karena itu, Kemhan akan berkoordinasi dengan TNI untuk menambahkan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) di Natuna. Menjaga keamanan negara, pemerintah Indonesia akan meletakkan satu flight atau empat unit pesawat tempur, tiga kapal perang jenis korvet, lima kapal patroli, dan dilengkapi dengan beberapa unit drone atau pesawat tanpa awak untuk menjaga Natuna. 


   "Kapal perang dan patroli juga harus siap menangkap pencuri-pencuri ikan yang berkeliaran di perairan Natuna. Pokoknya akan kita bikin aman," tuturnya.


        Empat pesawat tempur yang akan ditempatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Ranai, Natuna, kata Ryamizard, bisa pesawat tempur Hawk 100/200 dari Lanud Pontianak dan F-16 dari Lanud Roesmin Noeryadin, Pekanbaru, Riau.


        "Pesawat yang akan ditempatkan akan kita lihat lagi. Kita punya banyak F-16, sekitar dua skuadron, di Lanud Iswahjudi (Madiun) dan Lanud Roesmin Noeryadin, Pekanbaru. Di Pontianak kita juga punya Hawk. Penempatan empat pesawat ini akan dilakukan secara permanen," kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini.


        Selain itu, Kemhan juga akan melebarkan Landasan Udara Ranai di Natuna, sehingga di Lanud bisa dilandasi oleh dua pesawat tempur sekaligus jika dalam kondisi darurat. Lanud juga akan dilengkapi alutsista penangkis serangan udara dan drone yang akan terus memantau. 


   "Panjang landasan 2.500 meter saya kira sudah cukup. Lebarnya saja akan ditambah menjadi 35-45 meter, supaya dua pesawat tempur bisa terbang sekaligus. Paling tidak tahun baru akan dimulai. Landasan akan bagus, nanti pesawat komersil juga enak mendarat disini," ucapnya.


        Di tempat yang sama, Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV, Laksamana Pertama TNI Sulistiyanto mengatakan, di Pulau Natuna kejahatan yang paling sering terjadi adalah pencurian ikan oleh kapal asing. Oleh karena itu penguatan di laut dan udara menjadi hal wajib yang harus dilakukan pemerintah. 


   "Saya berterima kasih kepada Menhan yang akan menambah kapal perang, dan kapal patroli untuk menjaga wilayah perairan. Ini akan memperkuat keamanan laut di Pulau Natuna," ujarnya. (*)