Padang, (AntaraSumbar) - Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang Prof. Werry Darta Taifur mengatakan bahwa tantangan bangsa Indonesia pada masa yang akan datang diperkirakan akan jauh lebih berat apabila generasi muda tidak memiliki inovasi, kecerdasan dan menjaga nilai-nilai ideologi mahasiswa.
"Selain itu, apabila generasi muda berumur 19 hingga 23 tahun tidak terbina dengan baik diperkirakan akan menjadi bencana demokrasi bagi bangsa Indonesia," katanya ketika menjadi narasumber dialog nasional yang bertemakan "Pergerakan Pemuda Indonesia, Dulu, Kini dan Nanti" yang digelar oleh BEM Seluruh Indonesia di gedung Convention Hall Universitas Andalas Padang, Jumat.
Selain Werry Darta Taifur, narasumber dialog nasional dihadiri oleh kurang lebih 100 orang mahasiswa dengan moderator mantan Presma BEM KM Unand Mohamad Taufik itu juga menghadirkan narasumber mantan Ketua BEM Universitas Indonesia Faldo Maldini.
Werry berpesan kepada mahasiswa yang hadir dalam dialog nasional tersebut agar dapat mempersiapkan diri dan menjadi generasi muda yang inovator, cerdas. "Sehingga generasi muda yang akan datang dapat membawa bangsa Indonesia lebih baik kedepannya, bukan menjadi bagian bencana demokrasi bagi bangsa ini," katanya
Mantan Ketua BEM Universitas Indonesia Faldo Maldini mengatakan masa depan bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda bangsa ini.
Oleh karena itu, imbuhnya, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan faktor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa.
"Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaultan bangsa ini tentu akan menghadapi banyak permasalahan, hambatan, rintangan dan bahkan ancaman yang harus dihadapi," katanya.
Pada era reformasi, katanya lebih lanjut, para pemuda khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan negeri ini. Dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, gerakan pemuda dan mahasiswa sering menjadi tombak perjuangan nasional contohnya beberapa gerakan pemuda dan mahasiswa yang dicatat di dalam sejarah seperti Budi Utomo, Sumpah Pemuda, jelasnya.
Katanya melanjutkan, gerakan perjuangan pemuda dan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus berkembang pesat, hingga terjadi Tragedi Trisakti yang merupakan gerakan perjuangan pemuda dan mahasiswa.
Gerakan ini menuntut reformasi perubahan pemerintahan yang KKN (korupsi, kolusi dan Nepotisme) dan memaksa Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, katanya.
"Sejarah panjang gerakan pemuda dan mahasiswa merupakan salah satu bukti eksistensi dan tanggung jawab sebagai rakyat Indonesia dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia," katanya.
Sementara itu Koordinator Pusat BEM-SI Ahmad Khairudin Syam mengatakan bahwa BEM SI adalah gerakan untuk mengkritisi dan mengawal terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
Ia mengatakan, apabila kepemimpinan Presiden Jokowi dalam beberapa tahun kedepannya tidak membuahkan hasil yang baik atau semakin buruk bagi kesejahteraan rakyat, maka tidak menutup kemungkinan BEM SI akan mencari cara untuk bagaimana menurunkan kepemimpinan Jokowi.
Terkait masalah photo bersama beberapa anggota BEM dengan Presiden Jokowi tersebut, pihaknya menjelaskan bahwa BEM yang hadir di Istana Kepresidenan pada 21 Mei 2015 tersebut tidak mengatasnamakan dari BEM SI melainkan dari BEM Universitas mereka masing-masing.
Selain itu, imbuhnya, dirinya sebagai Koordinator Pusat BEM SI tidak hadir dalam kesempatan tersebut.
Dalam hal ini ia menduga peristiwa tersebut sebagai bentuk upaya pemerintah untuk meredam gerakan mahasiswa yang isunya berencana menurunkan Presiden Jokowi pada tanggal 20 Mei 2015, ujarnya. (*)