Jakarta, (Antara) - Peneliti Senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai, Setya Novanto bisa menjembatani Agung Laksono dan Aburizal Bakrie untuk mengakhiri konflik yang terjadi di tubuh Partai Golkar. "Meskipun surat keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengakui kepemimpinan Agung Laksono, tetapi Mahkamah Partai Golkar memerintahkan untuk mengakomodasi hasil Munas Bali," kata Karyono Wibowo yang dihubungi di Jakarta, Selasa. Karyono mengatakan, Setya selama ini merupakan kader Partai Golkar yang paling dekat dengan Aburizal Bakrie. Dukungan Setya terhadap Aburizal Bakrie sangat jelas terlihat. "Di sisi lain, Setya tentu memiliki kepentingan untuk tetap menduduki posisi Ketua DPR. Dalam politik tidak ada yang permanen, termasuk sikap politik. Bisa saja ada kompromi antara Setya dengan Agung Laksono yang bisa menjembatani kepentingan Aburizal Bakrie," ujarnya lagi. Karyono menilai, Agung Laksono juga memerlukan dukungan dari Setya Novanto. Apalagi, Setya merupakan salah satu mesin ATM bagi Partai Golkar. Menurut Karyono, Agung Laksono semakin berada "di atas angin" dengan surat keputusan Menkumham yang mengakui kepengurusan Partai Golkar yang dia pimpin. Karena itu, sangat mungkin akan semakin banyak kader Golkar yang mendukungnya. "Dalam konflik politik, magnet kekuasaan yang paling besar sangat menentukan. Saat ini, magnet yang paling besar ada pada Agung Laksono," katanya. Karyono mengatakan, sudah memperkirakan sebelumnya bahwa konflik Partai Golkar akan dimenangkan kubu Agung Laksono. Faktor dukungan pemerintah tak bisa dipungkiri memberikan keunggulan bagi Agung Laksono. "Pemerintah berhasil membangun keseimbangan kekuatan di parlemen. Tidak hanya keseimbangan tetapi malah lebih kuat. Siapa pun rezimnya, bila dukungan partai di parlemen sedikit, pasti akan berupaya membangun keseimbangan," ujarnya pula. (*/sun)