
24 Orang Tewas, 53 Cedera dalam Serangan Terpisah di Irak

Baghdad, (Antara/Xinhua-OANA) - Dua-puluh-empat orang tewas dan 53 orang lagi cedera dalam serangan terpisah di Irak Tengah pada Sabtu (22/3). Di Provinsi Salahudin, Irak Tengah-Utara, satu bom pinggir jalan meledak di satu jalan di Ibu Kota Provinsi itu, Tikrit, dan beberapa menit kemudian satu ledakan bom mobil mengguncang satuan polisi yang tiba di lokasi ledakan pertama, kata seorang sumber polisi provinsi. Kedua ledakan tersebut menewaskan sebanyak lima orang dan melukai 22 orang lagi, kata sumber itu. Ditambahkannya, tiga polisi termasuk di antara korban tewas dan beberapa orang lagi termasuk di antara yang cedera. Para penyerang tampaknya melancarkan taktik lama yang mengandalkan penciptaan ledakan awal untuk menarik pasukan keamanan dan warga, lalu meledakkan bom kedua untuk merenggut lebih banyak korban, katanya. Masih di Tikrit, seorang perwira polisi dan putranya tewas ketika satu bom yang diletakkan di mobil mereka meledak di bagian utara kota tersebut, yang terletak sekitar 170 kilometer di sebelah utara Ibu Kota Irak, Baghdad, tambah sumber itu, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi. Di Baghdad, Mohammed Bdiewi, seorang wartawan yang memimpin stasiun Radio Irak Bebas, ditembak hingga tewas di Kabupaten Karrada di Baghdad Tengah, setelah ia terlibat pertengkaran dengan seorang perwira dan beberapa prajurit yang menjaga tempat tinggal milik Presiden Kurdi Irak Jalal Talabani, kata satu sumber polisi. Bdiewi, yang juga seorang pengajar perguruan tinggi media di Mustansriyah University di Baghdad, sedang dalam perjalanan ke kantornya ketika peristiwa itu terjadi, kata sumber tersebut. Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki memerintahkan penangkapan perwira itu, yang diduga menembak Bdiewi hingga tewas, kata media setempat. Di dalam satu pernyataan, Sindikat Wartawan Irak mengutuk peristiwa tersebut dan mengatakan, "Tindakan tercela ini yang dilakukan terhadap seorang wartawan Irak di dekat pos pemeriksaan menunjukkan kurangnya penghormatan bagi wartawan serta buat seluruh warga." Sebelumnya, Muaiyad Al-Lami, pemimpin Sindikat Wartawan Iran, mengatakan lebih dari 390 wartawan telah tewas di Irak sejak 2003, dan jumlah itu naik jadi 17 pada 2013 --jumlah paling banyak wartawan yang tewas sejak 2008. Dalam peristiwa terpisah, satuan militer bentrok dengan gerilyawan yang diduga memiliki kaitan dengan organisasi Al Qaida di Daerah Abu Ghraib, sekitar 25 kilometer di sebelah barat Baghdad, dan menewaskan tujuh gerilyawan di daerah itu, kata satu sumber polisi lokal. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
