
Dubes AS Minta China Tingkatkan Masalah Ham

Beijing, (Antara/AFP) - Duta Besar Amerika Serikat untuk China, Gary Locke, yang akan segera mengakhiri tugasnya, pada Kamis mendesak Beijing agar meningkatkan masalah Hak Asasi Manusia (HAM), demikian pendapatnya yang disampaikan dalam jamuan beberapa hari sebelum meninggalkan negeri itu. Masalah HAM adalah nilai-nilai "umum" yang melebihi keuntungan ekonomi, katanya ketika berbicara dengan para wartawan di Kedutaan Besar AS. "Kami meminta China untuk terus meningkatkan -- ya kita minta China untuk meningkatkan nilai di bidang ini," kata Locke. "Terjadi kemakmuran yang besar dan peningkatkan kualitas hidup, standar hidup di China sini." katanya. "Tetapi masalah HAM bukan sekedar kemakmuran dan keadaan ekonomi seseorang, tetapi juga meliputi hak-hak dasar yang umum seperti kebebasan berbicara, kebebasan berserikat dan kebebasan untuk melakukan ibadah agamanya." "Kami sangat mengkhawatirkan keadaan akhir-akhir ini dengan meningkatnya penahanan terhadap para pegiat dan wartawan ... dan kami sangat cemas akan penahanan sejumlah orang yang terlibat dalam aksi damai." Locke tiba di Beijing pada 2011, segera menarik perhatian karena pada masa jabatannya ia melakukan perjalanan dari Beijing ke wilayah etnis Uigur dan Tibet, yang oleh para pegiat HAM disebut berada dalam pengawasan ketat China selain tekanan terhadap budaya dan agama di tempat tersebut. Diplomat itu juga menyandang gambaran sosok yang bersahaja, suatu keadaan yang berlawanan dengan pejabat China -- ketika terlihat mengangkat koper sendiri dan memakai mobil biasa. Ia menyaksikan dua drama diplomasi pada 2012 yang memaksa adanya perundingan intensif dengan penguasa China. Pada Februari tahun tersebut, Wang Lijun, tangan kanan Bo Xilai yang saat itu menjadi kepala metropolis Chongqing, melarikan diri ke konsulat AS di Chendu untuk meminta suaka akibat skandal yang meliputi pimpinannya. Wang akhirnya meninggalkan tempat tersebut melalui kesepakatan dengan pihak berwenang China, dan dijatuhi hukuman penjara 15 tahun. Beberapa bulan kemudian, tokoh penggerak HAM yang juga tuna netra, Chen Guanghcheng kabur dari rumah tahanan di Provinsi Shandong dan mencari suaka ke Kedubes AS di Beijing. Setelah perundingan yang sengit dan melibatkan Menteri Luar Negeri Hollary Clinton, namun Chen dan keluarganya kemudian diperbolehkan untuk menuju AS. Locke yang kakeknya bermigrasi ke AS dari Provinsi Guangdong di China selatan merupakan duta besar keturunan China pertama bagi AS yang ditugaskan di negeri itu. "Saya bangga atas warisan darah China saya dan saya juga bangga atas sumbangsih China dalam peradaban dunia selama ribuan tahun," katanya, Kamis. "Tetapi saya adalah warga Amerika. Saya bangga akan nilai-nilai luhur yang dibawa AS ke seluruh penjuru dunia dan dipertahankan oleh seluruh warga AS," katanya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
