Logo Header Antaranews Sumbar

Presiden Puji Produktivitas Hasil Pertanian Padi Sulsel

Sabtu, 22 Februari 2014 13:02 WIB
Image Print
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Antara)

Sidrap, (Antara) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memuji produktivitas hasil panen pertanian padi di Provinsi Sulawesi Selatan yang dinilai layak untuk dicontoh oleh provinsi lainnya di Tanah Air. "Saya mendapat laporan bahwa di sini satu hektare bisa menghasilkan 7-9 ton," kata Presiden saat kunjungan kerja memantau hasil panen padi di Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu. Menurut dia, jumlah tersebut sangat bagus karena secara rata-rata nasional, angka produktivitas padi adalah sekitar 5 ton/hektare. Untuk itu, ujar SBY, masyarakat layak bersyukur dan berterima kasih kepada para petani yang meningkatkan produktivitasnya. Selain itu, lanjutnya, Indonesia juga dinilai wajib berproduksi dan meningkatkan produktivitas sehingga tidak perlu melakukan impor pangan dari negara lain. Sebelumnya, Partai Golkar mendesak pemerintah lebih serius dalam menangani permasalahan pangan agar tidak terjadi kekurangan produksi pangan yang bisa mengancam ketahanan pangan di Tanah Air. "Golkar mendesak kepada pemerintah untuk lebih serius lagi dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan pangan," kata Anggota Komisi IV dari Fraksi Partai Golkar, Siswono Yudhohusuodo di Jakarta, Rabu (12/2). Menurut dia, perhatian lebih kepada masalah pangan adalah hal vital karena tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak memperhatikan masalah pangan. Ia berpendapat bahwa tujuan pembangunan akan menjadi sia-sia dan utopis bila permasalahan pangan tidak ditangani dengan tepat dan serius. "Oleh karena itu, pembangunan dan pemenuhan kebutuhan pangan merupakan syarat mutlak dalam mewujudkan pembangunan dan ketahanan nasional," ucapnya. Siswono menyoroti bahwa sebuah negara agraris seperti Indonesia ternyata tidak mampu menyediakan sejumlah kebutuhan pangan dalam negeri karena pemerintah masih harus mengimpor dari negara lain. Ia mengingatkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dibandingkan periode tahun sebelumnya, impor beras meningkat 141 persen, jagung 89 persen, dan kedelai 19 persen. Selain itu, impor apel, anggur, pir, dan jeruk meningkat masing-masing sebesar 37, 39, 44, dan 19 persen dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. "Impor produk-produk pangan di Indonesia sudah semakin kronis dan tidak terbendung, produksi pangan semakin menurun dan terancam dengan kehadiran produk-produk impor itu," ujarnya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026