Logo Header Antaranews Sumbar

BPBD: Jangan Buka Lahan dengan Membakar

Minggu, 16 Februari 2014 12:43 WIB
Image Print
Ilustrasi kebakaran hutan. (Antara)

Padang Aro, (Antara) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan mengimbau masyarakat setempat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar atau membakar sampah di dekat permukiman untuk menghindari terjadinya kebakaran terkait masuknya musim kemarau. "Sampai sekarang belum ditemukan pembukaan lahan dengan dibakar di Solok Selatan. Meskipun demikian, kami mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan itu karena sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kebakaran hutan yang bisa saja meluas," kata Kepala BPBD Solok Selatan, Hamudis, saat dihubungi, Minggu. Pembukaan lahan dengan membakar, katanya, selain akan menimbulkan polusi udara, jika kebakaran meluas akan mempengaruhi ekosistem di hutan tersebut. Selain itu, pembukaan lahan dengan membakar akan terdeteksi oleh satelit NOAA dengan tercatat sebagai titik api. Selain melarang membuka lahan dengan membakar, BPBD Solok Selatan juga mengimbau masyarakat setempat untuk tidak membakar sampah di permukiman untuk mengantisipasi kebakaran rumah. Ia mengatakan, selama 2013 setidaknya terjadi sekitar 15 kasus kebakaran rumah dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. "Ada satu rumah yang terbakar di Lubuk Malako dimana pemiliknya mengalami kerugian mencapai Rp1 miliar. Selain itu pada 2013 juga ada satu sekolah di Kecamatan Pauah Duo yang terbakar," katanya. Selain kebakaran rumah, katanya lebih lanjut, BPBD Solok Selatan juga mencatat adanya kebakaran lahan sebanyak dua kejadian, yakni di Bukit Manggiu dan di area perkebunan teh PT Mitra Kerinci. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ketaping Padangpariaman, Sumatera Barat (Sumbar), menditeksi terdapat peningkatan jumlah titik panas di Pulau Sumatera secara signifikan yang mencapai 704 titik pada Sabtu (15/2). Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Ketaping Padangpariaman Budi Samiaji, Sabtu, mengatakan titik panas paling dominan masih terjadi di Provinsi Riau sebanyak 611 titik, selanjutnya Sumatera Utara 58 titik, Aceh 18 titik, Sumatera Selatan enam titik, Bangka Belitung empat titik serta Kepulauan Riau tiga titik dan Jambi empat titik. "Berdasarkan data yang didapatkan dari pantauan satelit NOAA dan data yang kami terima pada Sabtu pukul 05.00 WIB terjadi peningkatan titik panas secara drastis dibanding Jumat (14/2)," katanya. Ia menjelaskan pada siang hari Jumat terpantau sebanyak 357 titik panas di Pulau Sumatera. Terjadi peningkatan mencapai hampir 100 persen. Ia mengatakan jumlah titik panas yang terpantau pada Sabtu merupakan jumlah tertinggi sejak sepekan terakhir. Sebelumnya pada puncak suhu pada siang hari Kamis (13/2) terdapat sebanyak 520 titik panas yang timbul di beberapa provinsi. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026