Logo Header Antaranews Sumbar

Tokoh Film: Jepang Perlu Pengingat Kengerian Perang

Sabtu, 15 Februari 2014 19:22 WIB
Image Print

Berlin, (Antara/AFP) - Sutradara veteran Jepang Yoji Yamada, dalam festival film Berlin, Jumat, mengatakan bahwa drama barunya "The Little House" yang berlatar belakang tahun 1940 dibuatnya bagi saudara sebangsanya yang tampaknya tidak menyadari kengerian perang . Yamada, 82, mengatakan bahwa film itu, yang terbaru dalam 60 tahun karirnya di dunia film dibuat berdasarkan novel laris karya Kyoko Nakajima, bertujuan untuk menjelaskan dampak buruk dari Perang Dunia II bagi generasi yang lebih muda . "Orang-orang dari era tersebut (Perang Dunia II) perlahan tapi pasti semua akan mati - orang-orang terakhir yang benar-benar tahu seperti apa (kehidupan) selama masa perang," katanya melalui seorang penerjemah . "Rasa bahwa perang adalah bencana, (perang) itu mengerikan, itu kejam, bahwa itu adalah tragedi - - rasa bahwa Anda harus belajar dari itu semua dan tidak pernah mengulangi itu lagi." Sutradara itu mengatakan bahwa tema yang pahit itu relevan dengan kondisi saat ini seiring meningkatnya ketegangan antara Jepang dan China dan setelah kunjungan Perdana Menteri Shinzo Abe ke kuil perang kontroversial Jepang pada bulan Desember . "Seluruh pemerintah, perdana menteri dan sebagainya, mereka semua dari era pasca-perang sehingga ada kesenjangan generasi yang nyata dari orang-orang yang mengalami perang," kata Yamada . "Saya pikir kami harus melawan semacam kunjungan resmi ini," tambahnya, mengacu agar Abe berhenti mengunjungi kuil yang menghormati 2,5 juta tentara Jepang yang tewas, termasuk 14 penjahat perang dari Perang Dunia II. - Propaganda Kemenangan Cepat - =============================== Film ini bercerita tentang seorang mahasiswa Jepang masa kini yang bibinya yang tidak memiliki anak, Taki, baru saja meninggal . Sang bibi ternyata telah menulis memoarnya sendiri di usia senja. Memoar yang ditulis dengan tangan itu berkisah tentang masa-masa bergolak ketika Taki bekerja sebagai pelayan dan pengasuh di masa mudanya di rumah seorang eksekutif perusahaan mainan yang tingga bersama dengan istrinya yang cantik dan anak mereka yang sakit-sakitan. Berasal dari strata sosial yang lebih rendah dan dengan prospek suram untuk menikah, Taki sangat senang tiba di The Little House di Tokyo, yang memiliki bangunan sangat indah seakan-akan keluar dari sebuah sketsa Frank Lloyd Wright . Tapi kehidupan tuan rumah, Masaki , ternyata dengan begitu cepat terganggu oleh persiapan untuk perang , karena ia dan rekan-rekan pengusahanya percaya tentang prospek kemenangan cepat Jepang dan membuka bisnis di China yang telah ditaklukan. Istri Masaki, Tokiko , seorang wanita elegan yang membaca novel-novel Barat seperti " Gone With The Wind" di waktu luangnya, ternyata jatuh cinta dengan rekan kerja dari suaminya, seorang yang berjiwa seni dan memiliki masalah kesehatan sehingga tampaknya tidak mungkin untuk dipanggil mengikuti wajib militer -- atau setidaknya tidak pada kesempatan pertama. Yamada menggambarkan optimisme memabukkan dari tahun-tahun tersebut saat penduduk ditipu oleh propaganda yang menyatakan bahwa Jepang akan memenangkan perang, sebuah fenomena yang ia ingat sangat jelas di masa kecilnya sendiri . "Semua surat kabar mengatakan 'Jepang akan menang , Jepang akan menang' tapi tentu saja itu tidak benar," katanya . Sutradara itu mengatakan hubungan cinta terlarang seperti yang diceritakan dalam kisah itu akan sangat penuh dengan risiko bagi semua yang terlibat, terutama sang istri yang bisa menghadapi tuntutan pidana . Dia mengatakan bahwa dia menggambarkan adegan terakhir saat rumah itu terbakar akibat terkena bom dalam serangan udara berdasarkan kenangan dari perang. "Ketika bom-bom itu dijatuhkan, mereka meledak sedikit seperti kembang api," katanya. "Mereka yang mengalaminya mengatakan mungkin terdengar aneh - bang! - tapi itu tampak indah." "The Little House" adalah salah satu dari 20 film yang bersaing dalam kompetisi film di festival Golden Bear Berlin. Pemenang akan diumumkan pada Sabtu. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026