Logo Header Antaranews Sumbar

Italia Menanti PM Baru Setelah Letta Mundur

Sabtu, 15 Februari 2014 14:19 WIB
Image Print

Roma, (Antara/AFP) - Presiden Italia Giorgio Napolitano akan mengadakan pembicaraan dengan partai politik pada Sabtu sebelum memilih perdana menteri yang baru, dengan calon yang sudah pasti yaitu pemimpin sayap kiri, Matteo Renzi. Perdana Menteri Enrico Letta dipaksa turun dari kedudukannya setelah partainya, Partai Demokrasi, mendukung Renzi yang mendorong suatu pemerintahan baru untuk membantu Italia mengatasi kesulitan ekonomi. Kepresidenan menyatakan dalam pengumuman pengunduran diri Letta bahwa Napolitano akan melangkah "dengan cepat" untuk menyelesaikan krisis dan menunjuk pemerintah baru yang dapat melakukan reformasi ekonomi dan politik yang sangat diperlukan. Renzi yang berusia 39 tahun, mantan anggota pandu yang tidak memiliki pengalaman dalam pemerintahan nasional atau parlemen, terlihat bakal menang dengan mudah untuk mendapat jabatan itu. Jika diusulkan, Renzi harus menepati janjinya untuk membangun ulang koalisi yang berkuasa, yang oleh para pengamat diperkirakan pemerintahannya akan dapat terbentuk pada pertengahan pekan mendatang. Pasar uang menyambut baik keputusan Letta pada Jumat untuk mundur setelah kepemimpinan selama 10 bulan di atas koalisi yang rapuh dan harus menghadapi krisis ekonomi. Suasana pada Jumat membuat penampilan Italia menjadi lebih stabil dari kondisi buruk sebelumnya, namun belum mengubah tingkat utang. PM lama yang akan meninggalkan tugasnya terlihat tersenyum ketika tiba di istana presiden dan menyampaikan terimakasih kepada para pendukungnya melalui pesan Twitter setelah kalah dari Renzi. "Terimakasih atas semua bantuannya," tulisnya pada Twitter. Presiden Amerika Serikat Barack Obama menelepon Letta pada Jumat untuk menyampaikan secara pribadi tanggapannay atas kepemimpinan Letta sebagai PM dan atas persahabatannya," demikian Gedung Putih. Renzi meminta Partai Demokrat untuk mendukung suatu pemerintahan baru yang dapat menerapkan "perubahan besar" dan mengeluarkan Italia dari kubangan. Pertarungan antara Letta dan Renzi tidak popular di kalangan rakyat Italia yang lebih menyukai pemilu awal, menurut jajak pendapat, dan ada kekhawatiran pada partai bahwa akan berakhir makin dipermalukan bekas PM Silvio Berlusconi. "Apa yang terjadi bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi dalam suatu demokrasi," kata taipan berusia 77 tahun dan tiga kali menjadi PM dalam pidato pada pemilihan daerah di Sardinia. "Saya adalah perdana menteri terakhir yang diilih oleh rakyat," ujar Berlusconi yang akan memimpin delegasi partainya Forza Italia (Go Italy) dalam perundingan dengan Napolitano pada Sabtu meskipun baru didepak dari parlemen tahun lalu akibat pemalsuan pajak. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026