
BUMN harus Hindari Pusaran Politik 2014

Jakarta, (Antara) - Memasuki tahun 2014 yang merupakan tahun politik, BUMN diharapkan mampu membawa diri untuk tidak ikut dalam arus politik. "Di tahun politik ini (2014) tekanan-tekanan terhadap BUMN pasti semakin besar. Namun, saat itu pula semua pihak harus mengawasi agar BUMN bisa menempatkan diri tidak terbawa dalam pusaran politik," kata Dekan Fakultas Ekonomi UI Firmanzah, pada seminar BUMN Outlook 2014, "Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015", di Jakarta, Rabu. Menurut Firmanzah, dengan pengawasan tersebut maka BUMN bisa menjalan tugasnya sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional. "Itu prasayarat utama agar BUMN tetap profesional dan 'governance' sebagai korporasi yang bebas dari intervensi dari pihak manapun itu," katanya. Firmanzah yang juga Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu menuturkan, setidaknya empat poin yang harus dikedepankan BUMN agar tetap berkembang optimal di tahun 2014. Pertama, menjaga profesionalitas kerja sehingga menghindarkan BUMN terjebak dalam situasi yang tidak diharapkan. Kedua, visi ke depan yaitu perlunya perencanaan strategis di mana membuat arah pengembangan usaha yang realistis. Ketiga, efisiensi dalam proses bisnis, mengurangi biaya yang membebani operasional untuk dialokasikan pada ekspansi usaha. Ke empat mendorong produksi ke barang-barang bernilai tambah tinggi dan melalui rantai proses yang dapat memperbesar pasar tenaga kerja. "Jika pengawasan sudah dilakukan ditambah dengan empat poin pengelolaan BUMN, maka perusahaan milik negara secara keseluruhan harus diberi target jelas, realistis dan berorientasi masa depan," ujarnya. Menurutnya, pada tahun 2013 banyak kemajuan yang dicapai BUMN tercermin lonjakan kinerja keuangan dari sebanyak 142 perusahaan. Berdasarkan catatan, dalam Nota Keuangan RAPBN 2014, kontribusi BUMN terhadap RAPBN ditargetkan sebesar Rp37 triliun yang berasal dari dividen BUMN Perbankan sebesar Rp5,9 triliun, dan BUMN lainnya sebesar Rp31,1 triliun. Terkait dengan keterlibatan PT Adhi Karya Tbk dalam kasus Hambalang, Firmanzah mengatakan itu bagian dari wajah buruk pengelolaan BUMN di masa lalu. "Ini menjadi pelajaran. Tapi jangan digeneralisasi bahwa wajah BUMN buruk secara keseluruhan. Soalnya banyak juga BUMN kita yang berkinerja bagus, dan dikelola secara profesional," tegasnya. Ia pun mencontohkan, sederet BUMN yang sudah masuk dalam kategori internasional karena sudah melakukan ekspansi ke luar Indonesia, seperti PT Semen Indonesia, PT Telkom, PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
