Logo Header Antaranews Sumbar

Tentara Prancis Bunuh 11 Gerilyawan di Mali

Sabtu, 25 Januari 2014 12:03 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/AFP) - Pasukan kontra-terorisme Prancis mengakhiri operasi serangan terhadap gerilyawan di Mali utara pada Jumat dengan menewaskan 11 orang gerilyawan, sementara seorang tentara Prancis mengalami luka. Aksi itu dilakukan setelah Paris memutuskan melancarkan kampanye melawan kelompok bersenjata yang terkait Al-Qaeda yang menguasai kantong gurun di Mali, menyusul pemulihan bekas negara jajahan Prancis itu untuk kembali ke pemerintahan demokrasi setelah kudeta yang menjerumuskan negeri itu dalam kekacauan. "Operasi militer Prancis di Timbuktu telah selesai. Sebelas teroris terbunuh. Seorang tentara Prancis terluka tetapi nyawanya tidak terancam," kata petugas dari misi operasi Prancis di bekas jajahannya. Satu sumber asing mengatakan kepada AFP pada Kamis bahwa pasukan Prancis membidik kelompok Keesaan dan jihad di Afrika Barat (MUJAO) serta pasukan bersenjata yang dibentuk oleh buronan komandan jihad, Mokhtar Belmokhtar serta pejuang setia pemuka setempat, mendiang Abdelhamid Abou Zeid. Sumber di militer Mali membenarkan informasi tersebut dan mengatakan bahwa Prancis telah menyelesaikan tugas dengan baik, karena kelompok jihad khususnya yang berasal dari Libia, menyusun ulang organisasinya untuk menduduki kembali kawasan dan akan menetap. Dia menyebutkan bahwa peralatan militer dan komunikasi kelompok gerilyawan sudah disita oleh pasukan Prancis. Operasi pasukan Prancis itu dilakukan di gurun beberapa ratus kilometer arah utara kota Timbuktu. Dua ledakan dilaporkan terjadi pada Jumat di Kidal, sekitar 300 mil arah Timur Laut Timbuktu, kata sumber militer Afrika dan penduduk setempat. Satu ledakan bisa didengar di pangkalan militer Mali dan satu lainnya di utara kota dekat kantor lembaga penyiaran penerintah, tetapi tidak ada rincian informasinya. Abou Zeid, warga Aljazair dan Belmokhtar adalah dia pemimpin Al Qaeda di Maghreb yang bersama dengan MUJAO dan kelompok gerilyawan lainnya melakukan kudeta militer pada 2012 untuk menduduki Mali namun berhasil dihalau oleh pasukan yang dipimpin Prancis. Aboue Zeid terbunuh dalam pertempuran melawan pasukan yang dipimpin Prancis di daerah pegunungan Ifonghas pada akhir Februari tahun lalu sedangkan Belmokhtar masih dalam buronan. Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Dran berbicara mengenai atas permintaan stasiun televisi Prancis pada Kamis mengenai aksi militer di Mali selama setahun terakhir. Ia mengatakan, "Tidak semuanya selesai, ancaman terorisme di bagian Afrika ini masih tetap tinggi." "Kami masih akan mempertahankan seribu tentara yang membawa misi melawan-terorisme," tambahnya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026