Logo Header Antaranews Sumbar

Irak akan Kirim Bantuan Militer ke Provinsi Anbar

Kamis, 2 Januari 2014 19:55 WIB
Image Print

Baghdad, (Antara/Xinhua-OANA) - Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki, Rabu (1/1), mengatakan ia mengubah keputusannya sebelumnya untuk menarik militer dari kota besar yang dilanda kerusuhan di Anbar dan sebaliknya akan mengirim balabantuan ke provinsi tersebut. "Saya takkan menarik tentara dan akan mengirim pasukan tambahan" ke Provinsi Anbar --tempat bentrokan berlanjut pada hari ketiga-- sebagai tanggapan atas permintaan dari warga dan pemerintah lokal, kata Al-Maliki sebagaimana dikutip stasiun televisi milik pemerintah --Al Iraqiya. Pada Selasa (31/12), Al-Maliki mengatakan militer akan mundur dari kota besar di Anbar tapi akan melanjutkan perburuannya terhadap gerilyawan Al Qaida di daerah gurun di Provinsi Irak Barat tersebut. Pasukan keamanan Irak pada Rabu bentrok dengan pria bersenjata di Kota Fallujah dan beberapa kantor polisi serta pos pemeriksaan di seluruh Anbar, kendati penarikan tentara dilakukan dari kota besar di Provinsi Irak Barat itu, kata satu sumber polisi. Puluhan pria bersenjata dan anggota suku bersenjata menyerang kompleks markas polisi di Fallujah, sekitar 50 kilometer di sebelah barat Ibu Kota Irak, Baghdad. Mereka menguasai gedung tersebut dan senjata setelah bentrokan singkat dengan pasukan polisi yang mundur guna menghindari pertempuran dengan mereka, kata satu sumber polisi kepada Xinhua. Sementara itu, beberapa pria bersenjata menyerang satu lagi kantor polisi di Kabupaten Golan di Fallujah, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam. Mereka juga merebut gedung tersebut setelah membunuh Kepala Polisi Mayor Muhannad As-Swidawi, kata sumber itu. Ditambahkannya, beberapa pria bersenjata juga menyerang pos pemeriksaan As-Sejar di Fallujah Utara serta mendudukinya tanpa bentrokan sebab personel polisi di sana meninggalkan senjata mereka dan melarikan diri dari tempat tersebut. Pada Rabu pagi, bentrokan sengit juga meletus di Kota Kecil Garma di dekat Fallujah, ketika puluhan pria bersenjata menyerang pos pemeriksaan polisi dan membakar tiga kendaraan polisi, kata sumber itu. Bentrokan lain meletus di beberapa kota besar di Provinsi Anbar, termasuk di Ibu Kotanya, Ramadi, sekitar 110 kilometer di sebelah barat Baghdad. Tapi tak ada laporan mengenai korban jiwa setelah keamanan nyaris ambruk totak di kota besar itu. Namun satu sumber dari Departemen Kesehatan Provinsi memberitahu Xinhua rumah sakit Ramadi telah menerima 16 mayat warga sipil dan sebanyak 66 orang lagi yang cedera untuk diobati selama dua hari belakangan. Bentrokan di Anbar memasuki hari ketiga, setelah ketegangan memuncak di provinsi tersebut pada Senin (30/12), ketika polisi Irak melucuti lokasi protes anti-pemerintah di luar Ramadi. Ketegangan telah tinggi di jantung wilayah Sunni, Anbar, sejak pasukan keamanan Irak pada Sabtu (28/12), menangkap kepala suku dari kaum Sunni Ahmad Al-Alwani dan membunuh saudara lelakinya. Al-Awani juga adalah seorang anggota Parlemen Irak. Al-Alwani adalah salah seorang tokoh paling vokal dalam protes anti-pemerintah. Beberapa anggota parlemen yang berseberangan dengan dia telah menuntut pencabutan kekebalannya tapi tuntutan mereka ditolak oleh Parlemen. Pemeluk Sunni di Irak telah melancarkan protes selama setahun, dan menuduh pemerintah --yang dipimpin pemeluk Syiah-- menyingkirkan mereka dan pasukan keamanan, yang juga didominasi pemeluk Syiah, secara membabi-buta menangkap, menyiksa serta bahkan membunuh putra mereka. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026