Logo Header Antaranews Sumbar

Jepang Pasok Amunisi untuk Pasukan Korsel di Sudan Selatan

Selasa, 24 Desember 2013 21:17 WIB
Image Print

Tokyo, (Antara/Reuters) - Jepang memasok amunisi kepada pasukan Korea Selatan yang bertugas dalam missi pasukan perdamaian PBB di Sudan Selatan, satu langkah kebijakan luar negeri Perdana Menteri Shinzo Abe yang tegas. Ini adalah pertama kali pasukan Bela Diri Jepang pasca-Perang Dunia II memberikan bantuan amunisi kepada negara lain, kata Kementerian Pertahanan Jepang, dan adalah tindakan terbaru untuk mengurang ketidakleluasaan yang diberlakukannya sendiri terhadap militernya. Menanggapi satu permintaan PBB, pasukan teknik mesin SDF di Sudan Selatan pada operasi yang sama memasok 10.000 amunisi kepada Korsel Senin melalui missi PBB di Sudan Selatan (UNMISS). Abe kembali berkuasa setahun lalu untuk masa jabatan kedua berjanji akan melakukan sikap lebih keras terhadap China yang terlibat dalam sengketa wilayah menyangkut pulau-pulau di Laut China Timur, dan meningkatkan bidang pertahanan Jepang. Hubungan antara Tokyo dan Seoul juga tegang akibat satu sengketa wilayah dan sejarah masa perang Jepang termasuk wanita-- banyak wanita Korea-- yang dipaksa bekerja dalam rumah pelacuran untuk militer dalam Perang Dunia II. Abe meningkatkan pengeluaran sektor pertahanan untuk pertama kali dalam 11 tahun, membentuk Dewan Keamanan Nasional untuk memperkuat kekuasaannya pada kebijakan militer, dan merencanakan satu strategi keamanan baru yang menyerukan peninjauan kembali larangan puluhan tahun Jepang untuk mengekspor senjata-senjata. "Abe sedang berusaha untuk menghapuskan pembatasan ekspor senjata itu. Agendanya ini adalah untuk membantu mengubah ekonomi lebih besar pada industri pertahanan Jepang," kata Brad Glosserman, direktur eksekutif di Forum CSIS yag bermarkas besar di Honolulu. Kepala Sekretaris Kabinet Yoshide Suga dalam satu pernyataan Senin mengatakan pasokan amunisi itu adalah dikecualikan dari larangan ekspor senjata karena sifatnya darurat dan kemanusiaan. Para teknisi Jepang ditempatkan di ibu kota Sudan Selatan, Juba, sementara pasukan Korsel di ibu kota negara bagian Jonglei, Bor, di mana situasi keamanan lebih berat. Pada Senin, Sekjen PBB Ba Ki-moon meminta PBB mengirim 5.500 personel pasukan keamanan ke Sudan Selatan -- hampir dua kali lipat dari jumlah tentara yang ada-- secepat mungkin untuk melindungi warga sipil dari aksi kekerasan yang kian buruk yang mengancam negara termuda Afrika itu yang dapat menimbulkan perang saudara. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026