Logo Header Antaranews Sumbar

CIA Bantu Kolombia Kejar dan Bunuh Para Pemimpin Farc

Senin, 23 Desember 2013 06:55 WIB
Image Print

Washington, (Antara/AFP) - Pertempuran Kolombia melawan gerilya kiri FARC telah diam-diam didukung oleh program intelijen Amerika Serikat yang membantu pasukan pemerintah memburu dan membunuh para pemimpin pemberontak, kata Washington Post Minggu. Program rahasia CIA - terpisah dari paket bantuan AS 9 miliar dolar yang dijuluki Rencana Kolombia, yang diluncurkan pada tahun 2000 - pada awalnya disahkan oleh Presiden George W. Bush sekitar waktu yang sama. Presiden Barack Obama telah melanjutkan bantuan itu, kata laporan Post, mengutip wawancara dengan lebih dari 30 mantan pejabat dan pejabat saat ini dari kedua pihak, Amerika Serikat dan Kolombia. Program rahasia tersebut bekerja dalam dua cara: AS memberikan informasi intelijen untuk membantu menemukan pemimpin FARC, dan memoles suatu bimbingan kit GPS khusus yang membantu mengkonversi bom standar menjadi bom pintar yang sangat tepat. Adalah berkat informasi AS bahwa orang nomor dua FARC, Raul Reyes, ditemukan dan dibunuh pada tahun 2008, kata laporan itu, yang mencatat bahwa program CIA telah membantu Kolombia melenyapkan "setidaknya dua puluh pemimpin pemberontak". Operasi Reyes dilakukan pada 1 Maret 2008, di negara tetanggaEkuador. "Untuk melakukan serangan udara berarti pilot Kolombia menerbangkan pesawat Kolombia yamh akan memukul kamp dengan menggunakan bom buatan AS dengan dikendalikan oleh CIA," kata Post. Media menambahkan bahwa Amerika Serikat membenarkan serangan-serangan di wilayah negara lain yang berdaulat sebagai pertahanan diri untuk Kolombia. Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), telah melakukanpemberontakan terhadap negara itu sejak didirikan pada tahun 1964. Kemudian Presiden Alvaro Uribe mengobarkan perang sengit melawan FARC selama era masa baktinya 2002-2010, mengurangi kekuatan kelompok pemberontak kiri terbesar di Kolombia menjadi separohnya - sekarang angka berkisar 8.000 pejuang - dan membatasi diri di daerah-daerah terpencil negara itu. FARC telah melakukan pembicaraan damai dengan Presiden Kolombia saat ini Juan Manuel Santos selama lebih dari setahun. Kedua pihak saat ini sedang membahas perdagangan obat sebagai bagian dari upaya untuk mencapai kesepakatan damai yang menyeluruh. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026