
Pengamat : Parpol Islam Perlu Perkuat Identitas

Jakarta, (Antara) - Partai politik Islam atau berbasis massa Islam perlu memperkuat identitiasnya agar pemilih lebih mudah untuk menentukan pilihan berdasarkan kesesuaian ideologi, kata pengamat politik Burhanudin Muhtadi. "Partai Islam punya kepentingan untuk mereduksi nilai-nilai menjadi bentuk yang lebih sederhana," kata Burhanudin pada diskusi "PKB dan Masa Depan Politik Nahdliyin" di Jakarta, Minggu. Dengan kondisi sistem multipartai ekstrem di Indonesia, kata Burhanudian, partai Islam adalah pihak yang paling dirugikan karena dihadapkan pada tantangan untuk mengidentifikasi masing-masing pihak sesuai dengan "platform" (landasan) masing-masing. "Jika tidak berhasil mengidentifikasi itu, suara massa pemilih akan pindah ke partai nasionalis," kata Pengajar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu. Tantangan untuk partai Islam pun tidak berhenti di situ karena untuk bersaing dengan partai nasionalis, perlu kesiapan dana, kelembagaan, dan figur yang kuat. Menurut Buhtanuddin, partai Islam di Indonesia masih memiliki kelemahan akan ketiga hal itu. Misalnya, untuk memaksimalkan popularitas dan elektabilitas, dibutuhkan logistik dan infrastruktur yang kuat. Hal tersebut membutuhkan dana yang besar. "Jika bicara soal modal, partai Islam yang paling dirugikan dalam persaingan," katanya. Kemudian, setelah pemilih kesulitan membedakan "platform" (landasan) masing-masing partai Islam, kecendurungan memilih akan bergantung pada figur yang ada di partai. "Nah, partai Islam ini kekurangan figur setelah era Gus Dur dan Amien Rais, sedangkan partai nasionalis inflasi figur," ujarnya. Oleh karena itu, lanjut dia, beberapa partai mulai bermanuver menampilkan figur-figur yang punya modal popularitas, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan mengusung penyanyi dangdut legendaris Rhoma Irama. "Dalam konteks sekarang, berdasrakan data, sebanyak 87 persen pemilih tidak memiliki keterikatan. Hal ini akan membuat pemilih terbujuk oleh figur. Maka, PKB 'mancing' Rhoma Irama," ujarnya. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
