
Menanti Surya dan Hujan berganti mengairi Sawah Nagari Tanjung Barulak

Padang (ANTARA) - Sejauh mata memandang hamparan pematang sawah di Nagari (Desa) Tanjung Barulak, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar mulai menghijau. Namun, jangan beranggapan hijaunya pematang merupakan padi berusia muda yang tumbuh subur di lahan pada ketinggian 600 meter diatas permukaan laut (Mdpl).
Hamparan hijau tersebut justru berisi gulma setinggi 30 sentimeter yang mulai memenuhi lahan persawahan milik masyarakat setempat. Sebab, lebih 9 bulan lamanya hamparan sawah seluas lebih kurang 800 hektar di nagari tersebut tidak dapat olah petani karena ketiadaan air.


Ketiadaan irigasi yang memadai hingga aliran sungai terdekat yang harus menembus tingginya gugusan bukit barisan, membuat sawah tadah hujan itu hanya bisa ditanami padi paling tidak satu kali dalam setahun. Itu Pun dapat dilakukan masyarakat jika di tahun tersebut hujan turun di kawasan itu, hingga ratusan hektar sawah tadah hujan tersebut dapat terairi.
Namun kini, secercah harapan masyarakat untuk bisa melakukan penanaman padi 2 hingga 3 kali dalam setahun tanpa rasa khawatir tidak tersedianya air untuk mengairi lahan persawahan warga mulai datang ke masyarakat di nagari itu.


Pasalnya sebuah pompa air dengan debit 150 hingga 200 liter per detik, yang bersumber dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berdaya 100 hingga 150 KVA, tengah disiapkan PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Barat untuk dipasang pada sebuah aliran sungai yang berjarak dua kilometer ke dalam lembah bukit barisan itu.


Ide pengembangan pompa irigasi bertenaga PLTS tersebut muncul dari keberhasilan sebuah prototipe pompa dengan debit dua liter per detik, yang diciptakan para peneliti dari Universitas Andalas (UNAND).
Meski hanya berkapasitas dua liter per detik, namun pompa yang listriknya bersumber langsung dari PLTS itu mampu mengalirkan air sebuah lahan uji coba sejauh jarak 1 kilometer dengan elevasi 164 meter.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi umbar Ajrun Karim mengatakan hasil penelitian dari UNAND itulah yang coba dikembangkan pihaknya dengan peningkatan kapasitas yang lebih besar agar mampu mengairi ratusan hektar sawah di nagari itu.
Terlebih hasil kajian dan riset lapangan yang dilakukan tim PLN, aliran sungai terdekat dari Nagari Tanjuang Barulak mempunyai debit air sekitar 4.000 liter per detik.
Sementara, yang dibutuhkan hanya 150 hingga 200 liter per detik. Artinya, ketersediaan air sudah sangat mencukupi untuk mengairi sawah di desa itu.

Ajrun mengatakan langkah pompanisasi menggunakan PLTS ini merupakan solusi konkret agar petani tidak lagi bergantung pada musim hujan sehingga produksi padi di daerah itu tetap bisa terjaga.
Terlebih, PLTS yang dikembangkan tidak menggunakan baterai sebagai penyimpan daya sehingga debit air yang digunakan dapat diatur sesuai kebutuhannya. Artinya, saat cuaca cerah maupun hujan tidak turun maka pompanisasi akan membantu mengairi sawah dan saat curah hujan tinggi maka sawah masyarakat akan tetap mendapatkan air tanpa bantuan dari pompanisasi.

Hal ini sesuai dengan semangat dalam mendorong swasembada pangan, sesuai program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto khususnya poin kedua tentang kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Kemudian poin keempat tentang pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi dan poin keenam pemberantasan kemiskinan. Di saat bersamaan, Pemerintah Provinsi Sumbar juga sedang menggencarkan serta secara bertahap beralih pada penggunaan energi hijau dan bersih.
Pembuatan PLTS untuk kebutuhan irigasi sawah juga sudah dilakukan di daerah Talawi, Kota Sawahlunto. Contoh baik ini akan diadopsi PLN Sumbar untuk membantu mengairi sawah masyarakat di Nagari Tanjuang Barulak, Kabupaten Tanah Datar.
Oleh Fandi Yogari
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
