Logo Header Antaranews Sumbar

Pemberontak Separatis Mali Akhiri Gencatan Senjata

Sabtu, 30 November 2013 09:29 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/Reuters) - Para pemberontak separatis Tuareg Jumat mengatakan mereka mengakhiri gencatan senjata lima bulan dengan pemerintah Mali dan mengangkat senjata lagi setelah terjadi kekerasan di kota utara Kidal. Deklarasi tersebut muncul sehari setelah pasukan Mali bentrok dengan para demonstran pelempar batu yang memblokir kunjungan perdanamenteri ke kota itu, kata kubu pemberontak utara. Beberapa demonstran terluka tetapi ada menjelaskan tentang bagaimana insiden itu dimulai. "Sayap politik dan militer dari Azawad (MNLA, MAA dan HCUA) menyatakan pencabutan gencatan senjata dengan pemerintah pusatdi Bamako," kata sebuah pernyataan oleh Attaye Ag Mohamed, salah satu pendiri kelompok MNLA. "Semua posisi militer kita dalam kondisi siaga," tambahnya. Negara Afrika barat itu kini sedang dalam proses kembali kepemerintahan sipil setelah pemberontakan Tuareg yang menyebabkan kudeta tahun lalu dan pendudukan utara negara itu oleh gerilyawan AlQaida. Satu serangan militer yang dipimpin Prancis berhasil mengusir kelompok gerilyawan, tetapi ketegangan masih tetap ada antara pemerintah pusat dan separatis Tuareg menuntut satu negara merdeka yang mereka sebut Azawad. Tuareg menguasai Kidal setelah Prancis melakukan serangan militer mengusir Islamis, yang menyebabkan ketegangan dengan pemerintah di Bamako. Di bawah pakta perdamaian Juni yang memungkinkan pemerintah untuk kembali ke Kidal menjelang pemilu , para pemberontak tetap Kidaltapi diminta untuk kembali ke barak mereka di bawah pengawasan pasukan penjaga perdamaian PBB,serta berhenti membawa senjata di depan umum dan membongkar semua hambatan. Kedua pihak adalah akan membuka negosiasi lebih lanjut atasstatus wilayah gurun yang bergolak itu. Seorang pejabat senior militer Prancis mengatakan kepada Reuters bahwa pasukannya akan menunggu dan melihat bagaimana hal-hal seperti itu bisa dimainkan di lapangan, tetapi tidak ada reaksi bagi lebih lanjut untuk pengumuman MNLA. Sebelum deklarasi Tuareg, misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa tiba di Mali yang dikenal sebagai MINUSMA telah mengutuk kekerasan di Kidal dan menyerukan semua orang untuk kembali ke meja perundingan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026