Logo Header Antaranews Sumbar

IMF Peringatkan Risiko Inflasi Turki

Rabu, 21 November 2012 07:01 WIB
Image Print

Washington, (ANTARA/AFP) - Dana Moneter Internasional pada Selasa memperingatkan Turki tentang risiko inflasi yang dapat merusak pertumbuhan ekonomi negara itu secara keseluruhan. Dalam sebuah laporan yang umumnya positif, menyusul konsultasi reguler dengan pemerintah Turki, anggota dewan eksekutif IMF memuji mereka "meletakkan pijakan untuk pertumbuhan lebih berkelanjutan dan berimbang pada 2012, disertai dengan penurunan defisit transaksi berjalan dan inflasi." Tetapi para direktur IMF mencatat bahwa inflasi Turki tetap di atas target dan ekspektasi inflasi masih meningkat. "Para direktur merekomendasikan bank sentral untuk mengadopsi sikap kebijakan moneter lebih ke depan dan memonitor perkembangan permintaan domestik, upah, serta arus modal," kata IMF dalam sebuah pernyataan. Banyak direktur menyarankan bank sentral kembali ke kebijakan suku bunga di bawah sebuah kerangka kerja penargetan inflasi konvensional. Namun, beberapa dari mereka berpikir bahwa, dalam lingkungan arus modal mudah "menguap" (volatil) saat ini, kerangka kerja kebijakan yang lebih fleksibel telah membantu ekonomi Turki dengan baik. "Dalam upaya mengelola risiko dari masuknya arus modal jangka pendek yang berlebihan, banyak direktur melihat ruang lingkup untuk penggunaan yang lebih besar dari intervensi sterilisasi, mengingat tingkat cadangan devisa relatif rendah, dilengkapi dengan langkah-langkah makro yang hati-hati," kata IMF. Dalam intervensi sterilisasi, otoritas moneter melawan kurs nilai tukar valuta asing tak menguntungkan dengan mengimbangi pembelian atau penjualan aset dalam negeri. IMF memproyeksikan inflasi Turki akan turun menjadi 7,5 persen pada akhir 2012, dari 10,4 persen pada 2011, dan turun menjadi 6,2 persen pada 2013. Setelah produk domestik brutonya tumbuh melonjak 8,5 persen pada tahun lalu, PDB diperkirakan tumbuh 3,0 persen pada 2012 dan 3,5 persen pada 2013. IMF mencatat bahwa prospek "tertutup oleh ketidakpastian eksternal, dan Turki tetap rentan terhadap perubahan sentimen pasar, mengingat kebutuhan pendanaan eksternal negara itu masih besar." Pada Maret 2010, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menolak bantuan IMF setelah negosiasi selama dua tahun dengan lembaga berbasis di Washington itu. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026