
Penari bereksperimen dengan plastik pada pertunjukan tari Diam adalah Siksa

Padang (ANTARA) - Sejumlah penari bereksperimen dengan media kantong plastik pada pertunjukan tari Diam adalah Siksa, pagelaran Ganggam Tari Kontemporer digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat di Padang.
"Diam adalah Siksa berangkat dari filosofi dalam seni tradisi Rabab Minangkabau, yakni bialah rabab nan manyampaian, maknanya biar rabab saja yang menyampaikan perasaan yang tak mampu diucapkan secara langsung," kata koreografer, Alsafitro saat diskusi, di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Sabtu.
Alsafitro menjelaskan, penari yang dibungkus kantong plastik menjadi simnol bagaimana seseorang memendam rasa yang sangat dalam sehingga tidak lagi terucapkan lewat kata-kata dan hanya bisa disampaikan lewat media lain.
Pada pertunjukan tersebut, seorang penari dibungkus kantong plastik transparan oleh penari lainnya, tidak hanya sehelai plastik namun berlapis-lapis hingga yang dibungkus tersebut memberontak dari dalam.
"Pada karya ini, saya menampakkan kecemasan. Diam bukan berarti emas, bukan berarti solusi, tapi diam adalah sebuah tekanan mental, karena banyak pikiran-pikiran yang membuat psikologi mereka terganggu," kata Alsafitro.
Penata tari senior Sumatera Barat, Deslenda mengatakan, konsep pertunjukan tari tersebut tersampaikan namun masih ada bagian-bagian lemah.
Menurutnya, pencahayaan sangat penting dan ia melihat ada beberapa adegan terutama yang menampilkan kantong plastik itu justru lampunya mati, padahal ia menilai adegan itu harusnya yang ditonjolkan dengan jelas karena terang.
Alsafitro merupakan satu dari tiga koreografer yang menampilkan karyanya pada Ganggam Tari Kontemporer ketiga yang digelar selama dua hari.
Pergelaran itu sebelumnya diawali dengan workshop tari untuk 25 orang koreografer muda Sumatera Barat yang dipilih melalui seleksi terbuka.
Dari proses itu terpilihnya 4 karya koreografer muda Sumatera Barat yang dikurasi dari peserta workshop tari tahun 2024 dan tahun 2025. (*)
Pewarta: Iggoy El Fitra
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
