Logo Header Antaranews Sumbar

Indonesia Targetkan Paket Bali pada WTO MC9

Selasa, 12 November 2013 14:21 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Indonesia menargetkan hasil berupa Paket Bali pada penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri ke-9 World Trade Organization (WTO MC9) untuk memecahkan kebuntuan Putaran Doha yang terhenti sejak 2001. "Target pencapaian dalam konferensi itu adalah Paket Bali yang memiliki tiga elemen seperti fasilitasi perdagangan, pertanian, dan negara-negara baru berkembang (LDCs)," kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo, di Jakarta, Selasa. Iman mengatakan, apabila Paket Bali tersebut bisa berhasil dimasukkan pada konferensi yang diselenggarakan di Bali tersebut dapat menyeimbangkan kepentingan WTO yang mengalami kebuntuan pada Putaran Doha sejak 2001, dan paket tersebut merupakan langkah yang diambil Indonesia menyusul tidak tuntasnya perundingan 19 isu dalam Putaran Doha yang berlangsung sejak 2001 silam. "Upaya perundingan Doha sampai sekarang tidak berhasil, buntu. Hal ini mendorong Indonesia untuk menjadi tuan rumah KTT WTO dengan target pencapaian adalah Paket Bali," kata Iman. Saat ini, lanjut Iman, banyak pemangku kepentingan yang mempertanyakan keuntungan bergabung dalam WTO, dan apabila nantinya Paket Bali tersebut disetujui, maka diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan negera-negara lain kepada WTO yang selama ini telah mengalami penurunan. "Jika Paket Bali 'goal' ini keberhasilan, sehingga kepercayaan terhadap WTO akan kembali tumbuh," ujar Iman. Indonesia tengah bersiap diri untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri ke-9 WTO, yang akan berlangsung pada 3 - 6 Desember 2013 di Nusa Dua, Bali, dan akan dihadiri oleh para menteri yang membidangi perdagangan dari 159 negara. Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa penyelenggaraan KTM WTO tersebut diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan dunia terhadap organisasi dunia itu. "Perundingan Putaran Doha, sudah 12 tahun lalu, dan hingga saat ini tidak ada kemajuan atau capaian sehingga banyak negara yang mengurangi rasa kepercayaan terhadap WTO," kata Bayu, Rabu (6/11). Bayu menjelaskan, misi utama dalam pertemuan tersebut adalah membangun kembali kepercayaan dunia terhadap WTO dengan menghasilkan Paket Bali yang mencakup beberapa elemen perundingan bidang pertanian, fasilitasi perdagangan, dan isu-isu pembangunan termasuk kepentingan negara-negara baru berkembang (less developed countries). "Jika tidak ada WTO, kita akan berjuang satu per satu dan tinggal kekuatan politik dan dagang saja yang bermain, yang kuat yang akan menang," kata Bayu. WTO merupakan organisasi internasional dimana negara-negara yang tergabung sebagai anggota telah menyepakati sejumlah tata aturan bersama dalam melaksanakan perdagangan dunia. Melalui sistem multilateral dengan prinsip non-diskriminasi tersebut, WTO telah berusaha untuk mengurangi berbagai hambatan perdagangan serta mendorong negara-negara anggota untuk melakukan perdagangan dengan cara yang adil. Selain itu, WTO juga mempunyai instrumen hukum yang cukup efektif berupa fasilitas 'dispute settlement', untuk menjembatani perbedaan kepentingan antar negara yang berdagang. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026