
China-Rusia Sepakati 21 Nota Kerja Sama

Beijing, (Antara) - China dan Rusia, menyepakati 21 nota kerja sama di sejumlah bidang terutama energi di Beijing, Selasa. Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan di Balai Agung Rakyat disaksikan Perdana Menteri China Li Keqiang dan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev. "Saya dan mitra saya Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, hari ini telah menyepakati sekitar 21 nota kerja sama, ini merupakan capaian dari hubungan baik kedua negara selama ini," kata Li Keqiang dalam jumpa wartawan bersama mitranya Medvedev. Ia menambahkan, sebelumnya keduanya telah melakukan pembicaraan bilateral tentang beragam capaian dan nilai kerja sama yang telah dilakukan kedua negara selama ini. "Dengan makin banyak kesepakatan kerja sama yang telah kami buat selama ini memberikan gambaran sukses hubungan yang telah dibina kedua negara," ujar Li menegaskan. Dalam kunjungan dua harinya serangkaian pertemuan ke-18 rutin pemimpin kedua negara dibahas mengenai kerja sama bidang perdagangan, investasi, energi dan pertukaran budaya. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan diantara 21 kesepakatan tersebut adalah Rusia sepakat untuk menambah pasokan 10 juta ton minyak mentah kepada China setiap tahun selama satu dekade mendatang. "Perusahaan yang akan memasok kebutuhan tambahan minyak mentah bagi China itu adalah perusahaan minyak Rosneft, dengan total nilai sekitar 85 miliar dolar AS," ujarnya menambahkan. Ia mengatakan negara-negara "emerging economy" terutama yang tergabung dalam BRICS (Brasil, Rusia, China, India, dan Afrika Selatan), kini memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia. "Mitra dagang terbesar Rusia, yakni Uni Eropa dan Amerika Serikat kini masih dalam krisis ekonomi, karena itu 'emerging economy' seperti BRICS sangat penting perannya dalam membangun ekonomi dunia," katanya, dalam perbincangan secara online melalui jaringan Xinhua.net, dengan sejumlah pengguna internet di Beijing. Pada kesempatan itu, Medvedev berharap volume perdagangan antara China dan Rusia dapat ditingkatkan menjadi 150 hingga 200 miliar dolar AS. "Pada 2012 total volume perdagangan kedua negara mencapai 88 miliar dolar AS, hampir mendekati 100 miliar dolar AS. Bagi saya nilai tersebut masih bisa ditingkatkan lebih dari 100 miliar dolar AS, yang merupakan target kedua negara pada 2015. Dan diharapkan pada 2020 target itu dapat meningkat menjadi 200 miliar dolar AS," tuturnya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
