
Serikat: Upah Murah harus Dihapuskan dari Batam

Batam, (ANTARA) - Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nuwawea meminta politik upah murah di Batam harus dihapuskan seperti sudah dilakukan pada beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti Jakarta dan Bekasi yang upah minimumnya sudah di atas Rp2 juta per bulan. "Di Jakarta UMK sudah menyentuh Rp2,2 juta, sementara Bekasi sudah Rp2 juta lebih. Kami berharap di Batam yang sekarang Rp1,4 juta bisa lebih baik seperti di daerah lain," kata dia saat menghadiri rapat akbar buruh di Lapangan Engku Putri Batam Centre, Sabtu. Ia berharap, Pemerintah Batam bmau menghapuskan upah murah karena di daerah lain seperti Jakarta, UMK-nya sudah mencapai 122 persen dibanding KHL yang diajukan. "Sebagai etalase industri Indonesia, kami berharap UMK Batam akan lebih baik dari tahun kemarin," kata dia. Ia mengatakan, bersama seluruh serikat pekerja yang ada di Batam telah mengimbau agar menjaga iklim investasi yang kondusif dan berharap kerusuhan saat pembahasan UMK pada 2011 tidak terulang kembali. Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Said Iqbal meminta butuh tidak mau lagi diupah murah karena kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah masuk 16 besar di dunia. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia nomer dua di dunia setelah China, jadi sudah saatnya semua buruh mendapatkan upah layak setra dengan upah di negara-negara lain," kata dia. Ia mengatakan, meski saat ini pertumbuhan ekonomi di Indonesia tertinggi di ASEAN mamun upah buruh masih jauh dibawah Singapura, Thailand dan Malaysia. "Upah buruh Indonesia berada pada urutan 66 terbawah dari 190-an negara di dunia," kata Said. Selain dua petinggi serikat buruh tersebut, Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Mudafir juga hadir dalam rapat akbar tersebut. Para petinggi buruh mengatakan, akan membantu perjuangan buruh di Batam agar UMK bisa diatas Rp2 juta seperti kawasan industri lain di Indonesia. "Kami akan mendukung perjuangan buruh. Namun tidak boleh ada tindakan anarkis," kata Mudafir. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
