Logo Header Antaranews Sumbar

Subur Tegaskan Tidak Ada Penjemputan oleh BIN

Senin, 21 Oktober 2013 13:27 WIB
Image Print
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Subur Budhisantoso saat bertandang ke rumah Anas Urbaningrum. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Subur Budhisantoso menegaskan bahwa sama sekali tidak ada penjemputan oleh aparat Badan Intelejen Negara (BIN) dan juga pelarangan dirinya meninggalkan kantor BIN pada Jumat (18/10). "Tidak ada penjemputan, penggelendangan, pencokokkan oleh BIN terhadap saya," kata Subur kepada pers di Jakarta, Senin. Subur mengaku dirinya sejak Kamis (17/10) telah mengagendakan untuk berkunjung ke BIN bersama sejumlah politisi dan akademisi guna berdiskusi dengan Kepala BIN Marciano Norman. "Saya sudah sekitar dua atau tiga kali ke BIN, sebelumnya untuk berdiskusi," ujar Subur. Pakar Antropologi Politik Universitas Indonesia ini mengaku datang tidak sendiri, tapi bersama rombongan yang terdiri dari politisi, aktivis, dan akademisi untuk membicarakan apa yang dia sebut permasalahan bangsa. "Mereka datang ada yang dari Aceh, Kalimantan, hanya untuk berdiskusi," ujar Subur, sembari menolak menjelaskan lebih detail substansi yang akan didiskusikan. Subur mengatakan dirinya datang ke kantor BIN pada Jumat pagi dengan mobil pengawalan. Subur menduga hal tersebut yang membuat pengurus PPI M. Rahmad dan Sri Muryono mengira dirinya dijemput oleh BIN. "Saya datang dengan mobil patwal yang pakai sirine segala, karena saya pake manual (kendaraan manual). Sopir saya itu sudah tua dan tidak bisa, mungkin itu memberi kesan kalau saya dijemput," katanya. Subur tiba di Kantor BIN pada Jumat, pukul 10.00 WIB. Dia mengatakan dirinya menunggu pertemuan dengan Marciano hingga 11.30 WIB. Selagi menunggu, dirinya dengan peserta rombongan makan di kantin BIN. "Namun, ternyata diinformasikan oleh BIN, bahwa Marciano harus menemui Presiden, jadi pertemuan itu tidak jadi, dan saya langsung ke bandara, mau ke Pontianak," katanya. "Saya menunggu dengan makan di Kantin, bukan di Kantor BIN," ujarnya menambahkan. Setelah Subur memutuskan untuk langsung menuju Bandara pukul 11.30 WIB, dia mengatakan baru menerima informasi undangan diskusi yang disampaikan oleh Ketua Presidium PPI Anas Urbaningrum melalui layanan Blackberry Messenger. Namun, dirinya tidak melihat secara keseluruhan informasi dariu undangan tersebut. "Saya tidak tau ada undangan di BB. Itu BB yang saya pakai waktu jadi Ketua Umum, jarang saya baca, ternyata ada undangan," katanya. Subur juga menyangkan adanya kesalahpahaman yang akhirnya membuat kehebohan di masayarakat selama beberapa hari terkahir. "Ini hanya 'miss communication', dan saya agak gusar. Jumat malam, saya hubungi Kepala BIN, untuk menjelaskan," ujarnya. Subur pada Jumat dijadwalkan menjadi pembicara pada diskusi "Dinasti versus Meritokrasi Politik" pada Jumat (18/10) di Rumah Pergerakkan PPI, Duren Sawit, Jakarta. Pengurus PPI M. Rahmad, yang menjadi moderator diskusi tersebut di Rumah PPI, mengatakan kepada pers bahwa Subur Budhisantoso telah dijemput oleh BIN pada Jumat pagi, dan dilarang meninggalkan kantor BIN, meskipun pada siangnya telah diundang untuk menjadi pembicara pada diskusi di PPI. "Jadi silakan teman-teman tafsirkan sendiri kenapa Prof Budi tidak bisa hadir dan kabarnya beliau tidak dibenarkan tinggalkan Kalibata sebelum ketemu Kepala BIN," kata Rachmad saat itu. Kepala BIN Marciano Norman pada Sabtu malam telah membantah pernyataan Rahmad tersebut. Kepala BIN meminta Rahmad meminta maaf dan mengancam akan menempuh jalur hukum, jika informasi yang tidak betul tersebut terus bergulir di masyarakat. Namun, Rahmad pada Minggu (20/10) menolak meminta maaf dan mengatakan hal tersebut terjadi karena adanya kesalahan intrepretasi perkataannya oleh berbagai pihak. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026