Logo Header Antaranews Sumbar

Rowhani: Iran Tak Ingin Perang Dengan Bangsa Manapun

Jumat, 20 September 2013 06:41 WIB
Image Print

Washington, (Antara/AFP) - Presiden Iran Hassan Rowhani menyebut Israel sebagai "perampas" yang membawa ketidakstabilan ke Timur Tengah namun menegaskan bahwa negara republik Islam itu tidak ingin memulai peperangan dengan negara manapun. Dalam wawancara eksklusif kedua dengan jaringan televisi AS NBC yang disiarkan Kamis, Rowhani juga membelokkan pertanyaan mengenai apakah seperti pendahulunya Mahmoud Ahmadinejad, ia meyakini bahwa Holocaust hanyalah sebuah mitos. Saat ditanya secara spesifik mengenai musuh utamanya Israel, ia mengatakan, Teheran tidak menginginkan perang namun ingin perdamaian di kawasan itu. "Kami percaya pada kotak suara. Kami tidak ingin berperang dengan negara manapun. Kami mencari kedamaian dan persahabatan dengan negara-negara di kawasan ini," katanya melalui seorang penerjemah. Meski, tetap saja ia mengecap Israel sebagai "pemerintahan perampas yang melakukan ketidakadilan terhadap rakyat di kawasan tersebut serta membawa ketidakstabilan ke kawasan dengan kebijakan hasutan perangnya." Seharusnya "ia tidak berpidato mengenai pemerintahan yang dipilih secara bebas dan demokratis," katanya. Ketika ditanya mengenai Holocaust, ia mengatakan: "Saya bukan pakar sejarah. Saya seorang politisi." "Apa yang terpenting untuk kita adalah bahwa negara-negara dan rakyatnya semakin erat dan mereka mampu mencegah agresi dan ketidakadilan," ujarnya. Wawancara tersebut disiarkan beberapa hari sebelum Rowhani berkunjung ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Dalam komentarnya yang disiarkan Rabu, Rowhani mengatakan Iran, yang oleh pihak Barat diduga mengembangkan program nuklir bukan untuk tujuan damai, tidak akan membuat senjata atom. Ia menegaskan hal tersebut dalam pernyataan terbarunya. "Kami sudah dengan jelas menyatakan kami tidak dan tidak akan mengembangkan senjata nuklir," imbuh dia. Rowhani yang dianggap lebih moderat dibandingkan lawan politiknya, mulai berkuasa pada Juni dengan janji membantu memperbaiki ekonomi Iran serta menurunkan ketegangan dengan Barat. Sikapnya menimbulkan optimisme sekaligus skeptisme di Washington, karena menurut para pakar, pemimpin spiritual Ayatollah Ali Khamenei memegang kendali utama untuk kebijakan luar negeri. Ketika ditanya mengenai sensor internet, Rowhani mengatakan, dalam waktu dekat pemerintahannya akan membentuk komisi untuk hak rakyat. "Kami ingin rakyat, dalam kehidupan pribadi mereka, benar-benar bebas," katanya. "Dan dalam dunia masa kini, memiliki akses terhadap informasi dan hak untuk berdialog dengan bebas, serta hak untuk berpikiran bebas, adalah hak semua orang, termasuk rakyat Iran." Ketika secara khusus ditanyakan apakah ini berarti warga Iran akan bisa mengakses Facebook dan Twitter, Rohani mengatakan: "Titik pandang pemerintah adalah bahwa rakyat harus memiliki akses penuh ke semua informasi dunia. Pendapat kami dalam hal ini harus didasarkan pada perlindungan identitas nasional kami serta moral kami." (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026